Jumat, 08 Maret 2013

W.A.N.I.T.A

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Rasulullah SAW bersabda: "Wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak maka Negara akan rusak pula."
WOW... membaca hadits diatas saya sedikit bisa merasakan betapa besarnya tanggung jawab seorang wanita. Sebagai wanita seperti mendapat beban yang sangat berat yang mesti dipikul dalam menjalani kehidupan ini. Seolah-olah hancur leburnya dunia ini semua diserahkan kepada wanita sebagai penanggung jawab. Dunia berada dalam genggaman tangan wanita, entah madu atau racun yang akan disuguhkan, itu semua tergantung pada wanita. Namun jika ditinjau dari sisi sebaliknya, wanita seharusnya merasa bangga jika mampu mewujudkan keberhasilanya sebagai wanita penegak tiang agama.
Ketika saya touring ke sebuah kota daerah timuran, saya bersama rombongan terpaksa menghentikan perjalanan setelah melihat sebuah pertunjukkan, tidak lain yaitu sebuah Orkes dangdut yang digelar disebuah lapangan, dan dalam rangka Tasyakuran. Sambil beristirahat dan ngademin mesin, teman-teman saya larut dalam alunan musik dangdut yang khas dengan "woyo woyo juosssss...." hehe
Setelah usai lagu yang pertama, kemudian keluarlah seorang perempuan mengenakan baju ketat dan rok mini seperti milik anak TK itu menyanyikan lagu "pacar 5 langkah." Dengan alunan musik yang khas wanita tersebut mulai menggoyangkan badannya dan berlari-lari kecil kesana kemari. Teman-teman saya pun langsung bergegas ikut bergoyang sambil desak-desakan, sedangkan saya cukup mengamati dari belakang saja, maklum badan saya besar jadi kalau maju tidak muat. wkwkwk
Tapi tidak masalah melihat dari kejauhan toh pahanya yang mulus milik penyanyi tersebut masih kelihatan kok, jangankan pahanya....
heh...!!! kok malah ngeres tho,,hehehe (jitak)...
Bila disangkutkan dengan Sabda Rasul diatas, apakah ini termasuk tanda-tandanya sebagai negara yang rusak? Yang pasti saya tidak berani menjawab, takut salah cing....hehe 
Namun, saya pernah membaca tulisan disebuah komunitas Inspirasi Wanita Indonesia, menjelaskan bahwa ada 10 macam siksaan bagi seorang perempuan dan penyebabnya, yaitu :
1.Wanita yang digantung rambutnya dan otaknya mendidih karena tidak menutup rambutnya.
2. Wanita yang digantung lidahnya, dan tangannya dikeluarkan dari punggungnya sedang cairan aspal panas dituangkan pada tenggorokannya, karena menyakiti hati suaminya dengan lidahnya / kata-katanya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya karena menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya.
4. Wanita yang diikat dengan tangannya karena keluar rumah tanpa izin suami dan tidak mandi wajib dari haid dan nifas.
5. Wanita yang diikat dengan kaki dan tangannya sampai ke ubun-ubun, dibelit dan disengati ular dan kalajengking karena dia mampu untuk mengerjakan shalat dan puasa tapi tidak mengerjakannya dan tiak mau wudhu dan mandi wajib.
6. Wanita yang memakan badannya sendiri karena bersolek untuk dilihat laki- laki lain dan suka membicarakan aib orang lain.
7. Wanita yang menggunting-gunting badannya karena suka memanjakan diri ( ingin terkenal ) dan mempertontonkan perhiasannya di depan orang banyak sehingga tertarik padanya.
8. Wanita berkepala babi dan badannya seperti keledai karena dia suka berdusta dan mengadu domba.
9. Wanita berbentuk seperti anjing dan api dimasukkan dari mulut hingga keluar dari duburnya dan malaikat memukul- mukul kepalanya karena dia ahli fitnah dan suka marah-marah pada suaminya.
10. Wanita diikat kedua kakinya sampai ke payudara dan kedua tangannya sampai ke ubun- ubun dan disengati ular dan kalajengking karena ia telah mempersilahkan laki- laki lain untuk berzina dengannya.

Perhiasan :
“ Wanita mana saja yang memakai kalung untuk dipamerkan kepada orang lain, maka di hari kiamat ia akan dikalungi api neraka sebesar kalung itu dan bila memakai anting-anting untuk dipamerkan maka telinganya akan digantungi api neraka sebesar anting- anting itu “.

Ditambah saya pernah mengikuti sebuah pengajian yang menerangkan batasan-batasan aurat seorang wanita, Berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) walaupun sehelai. Pendek kata, dari hujung rambut sampai hujung kaki kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. 

Dalil lain yang menunjukkan bahawasanya seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan ialah sabda Rasulullah  kepada Asma’ binti Abu Bakar,
“Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidh) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” [HR Abu Dawud] 

Saya rasa dalil diatas sudah mewakili dari hadits-hadits lain yang menerangkan tentang aurat seorang wanita, namun, yang jelas bukankah indah itu akan semakin indah apabila tertutup?
Sesuatu akan lebih menarik jika ia tak terlihat, akan tetap menjadi misteri, yang tidak pernah akan selesai kecuali memiliki? Sesuatu yang tidak bisa disingkap dan disentuh akan menimbulkan kerinduan. Yang tersembunyi dengan baik dan terjaga akan memiliki nilai yang tinggi. Tanpa hijab tidak ada daya tarik, tidak ada kerinduan. Bukankah Allah adalah misteri dan tersembunyi maka kita semua merindukan-Nya? Bisa dibayangkan jika Allah terlihat oleh mata dunia kita, kan?
Hakekat Jilbab adalah hiajb lahir batin. hijab mata dari memandang lelaki yang bukan mahram. Hijab lidah dari berghibah atau bergosip dan kesia-siaan. hijab pikiran dari berfikir yang mengundang setan untuk memperdayai nafsu. Jika demikian, jilbab yang tersemat akan menyinari hati pemakainya.(Ade a.k.a Rindu)

Bukankah kue dengan bungkus yang indah akan mahal harganya jika dibandingkan kue yang terbuka, yang hanya jadi santapan lalat? Kalau bukan kalian sendiri yang memberi harga untuk dirimu, maka siapa lagi wahai para kau hawa?hehehe

Yah semoga bermanfaat, tapi sekali lagi mohon maaf jikalau ada kesalahan, karena memang masih kurang banyak pengetahun mengenai hal ini,,

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Kamis, 07 Maret 2013

BUAT APA MENANGISI YANG BUKAN MILIKMU


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kemarin malam sepulangnya saya dari sebuah acara, bersama dengan teman-teman saya berkumpul disebuah warung makan. Yah, seperti biasa kami ngobrol kesana kemari dan malah sampai pada sesi curhat segala. Tentang Bambang (nama samaran) yang sedang patah hati, tentang Aldi (nama samaran) yang sedang jatuh cinta, dan tentang Gondrong (nama samaran) yang sudah lama ngejar-ngejar wanita tapi belum dapat kepastian. hehehe Atau tentang saya yang sedang makan serta galau juga kayaknya..wkwkwk
Yang menarik dari cerita-cerita ini adalah salah satu sahabat saya yang sedang mengalami kisah cinta “bertepuk sebelah tangan” alias KANDAS… wah saya sedikit tersindir ini,hahaha
Pahit sekali katanya, dan arrghhhh gitulah,,hehehe Sontak saya teringat nasihat super dari buku Peprempuan Pencari Tuhan, bahwasannya “kita harus bersyukur atas apa yang tidak kita miliki karena Allah Mahatahu mana yang pas untuk kita menurut takaran Allah, bukan menurut takaran kita, manusia. Memangnya siapa kita ikut mengatur Allah? Meski kita maunya ini dan enggak mau yang itu. Pokoknya yang ini!” Loh, tidak malu apa mengatur Allah yang lebih tahu? yang Mahatahu bahkan. Dalam QS Al-Baqarah [2] : 216 :”Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak mengetahui”. Jelas tho sekarang? Allah yang lebih tahu. Jadi terima takdir kita dan ikhlaskanlah tanpa syarat.
Sekarang, sudahlah, JANGAN tangisi apa yang bukan milik kita! Karena semua itu memang bukan yang terbaik untuk kita. BERSYUKURLAH ia tidak menjadi milik kita karena memang ia tak pantas untuk kita. Percaya deh, apa yang dipilihkan Allah untuk menjadi milik kita itulah yang terindah, terbaik, dan termanis. Maka sudahlah jangan tangisi apa yang bukan milik kalian. J
Maaf nih kalau tulisan ini mendadak jadi mellow gini,heheh mungkin tidak terlalu berbuah hikmah namun, hanya buah perenungan bagi saya. Kemaren sehabis sholat Isya’, saya mencoba merenungkan dengan apa yang telah saya perbuat. Lebih tepatnya mencoba mengerti pesan Allah dari berbagai kejadian dalam hidup saya. Mungkin kejadian yang terjadi pada bulan lalu dimana keinginan saya tidak bisa tersampaikan. wkwkwk
Teringat pesan senior saya kalau ingin membuat hidup ini bermakna dan tidak sia-sia adalah dengan cara meninggalkan luka lama. Tak perlu sering diingat. Ibarat sebuah buku maka bab itu sudah selesai, bab baru sudah menunggu. hehe Kalau kata orang Klaten “Life Must go on.” Malam ini , saya teringat bahwa dalam perjalanan jiwa saya rasanya saya lebih banyak menangisi kepergian orang-orang yang meninggalkan saya dan sedikit sekali, bahkan jarang sekali saya mengingat mereka yang tak pernah pergi dari sisi saya. Seberapapun luka yang saya tanamkan, ada yang tetap mencintai saya. Saat ada yang tak peduli dengan saya, ada yang begitu memperhatikan saya. Saya lupa dengan orang-orang yang menyembuhkan luka saya setelah itu. Kasih sayang, perhatian, rasanya saya buat tak bermakna karena pikiran saya dipenuhi luka dan sang pemberi luka. Saya terpaku oleh luka dan melupakan cinta yang mengelilingi saya. Cinta yang tanpa hawa nafsu pastinya, mungkin emang enak yang pake nafsu seperti para budak setan mencintai.
Kemudian saya sadari bahwa saya sering melihat pintu yang tertutup, lalu menangisi mengapa pintu itu tertutup. Lalu saya menggedor-gedor sang penutup pintu agar mau lagi membuka pintu itu dan beri saya kesempatan. Lalu meraung-raung jungkir balik dibalik pintu meratapi luka. Betapa bodohnya saya. Saya merasa tak bisa melihat dunia lagi karena pintu itu tertutup untuk saya. Kebodohan yang lain adalah saya lalu melupakan jendela-jendela yang terbuka lebar dan memberi saya ruang yang lebih luas dan lebar agar saya dapat melihat dunia dari sudut yang lebih indah, agar saya lebih mampu memerolah oksigen lebih banyak. (PPT)
Satu-satunya cara untuk mengobati luka adalah dengan meninggalkan luka itu sendiri. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib seseorang hamba jika sang hamba tidak mengubahnya sendiri? Ayo, paksa diri untuk melangkah! Tutup lembaran yang ini dan bukalah lembaran baru. Tenang, kertasnya masih banyak kok,hehehe
Yuk, melangkah! move on! Buktikan bahwa luka yang ditorehkan tidak akan sanggup membunuh kita. Jangan berlama-lama dalam kesia-siaan, karena Allah tidak suka terhadap hal tersebut. Masih banyak yang harus kita lakukan, masih banyak perkerjaan yang menunggu, dan masih banyak orang-orang yang mencintai kita. Allah hanya mengambil satu orang yang tidak lagi kita butuhkan. Bukankah Allah hanya memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan?
Betul! jadi janganlah tangisi yang Allah ambil dari kita karena Allah tahu bahwa kita memang tidak lagi membutuhkan yang itu lagi. Tidak ada sesuatu pun yang diambil dari seseorang hamba kecuali diganti dengan yang lebih baik. Bangun dan jemputlah! Waktu terus berjalan, masak kalah sama patah hati? Rugi Dong… J
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

TRUST N BELIEVE



Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dalam sebuah pendakian ke Gunung Merbabu, saya bersama ke dua teman saya berhasil menjamah puncak tertinggi gunung tersebut. Namun, terdapat sebuah cerita yang menarik dalam kisah pendakian kami. Kami sampai pada puncak pukul 17.10 WIB, tanpa disadari kalau tenda kami berada sekitar 500m dari puncak, dan yang pasti kami harus turun sebab tidak mungkin kami harus bermalam dipuncak tanpa menggunakan apa-apa. Setelah hari semakin petang, ditambah kedua tangan saya yang sudah mulai kaku akibat kedinginan, kami memutuskan untuk turun. Namun, kami masih merundingkan siapa yang akan memimpin perjalanan pulang. Awalnya teman saya yang bernama Tris yang akan memimpin perjalanan, saya percaya kalau dia mampu membawa saya sampai bawah, namun saya masih ragu dengan kemampuannya karena dia jarang mendaki, akhirnnya saya memilih Adzin untuk membawa kami berdua turun, sebab saya mengerti kalau dia sering mendaki sehingga saya mempercayakan segalanya kepadanya agar kita bisa sampai di tenda. Akhirnya dengan penuh perjuangan kami bisa sampai di tenda dengan selamat.
Melihat cerita diatas terdapat perbedaan yang signifikan antara percaya dan mempercayakan. Sikap saya kepada Tris dalam cerita diatas adalah lambang dari rasa “percaya”, sedangkan sikap saya kepada Adzin adalah lambang “mempercayakan”.
Setelah saya renungkan kembali ternyata memang benar, terkadang manusia berada pada tingkat percaya kepada Sang Pencipta, namun tidak bersedia total mempercayakan hidupnya dalam iman kepada-Nya. Seorang istri percaya bahwa suaminya tidak akan selingkuh, namun tidak mempercayakan sepenuhnya keyakinannya tersebut, akhirnya rasa cemburu buta dan curiga masih saja mewarnai hubungan mereka. Seorang pemimpin percaya bahwa anak buahnya mampu menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkannya dengan baik, namun dia tidak mempercayakan sepenuhnya kepada anak buahnya, akhirnya setiap waktu sering dikontrol dan alhasil membuat kreativitas anak buahnya terkebiri.
Saya tidak akan mempercayakan sepenuhnya kepada teman saya Adzin jika saya tidak terlebih dahulu percaya kalau Adzin sering mendaki, percaya bahwa dia lebih berpengalaman dari pada saya dan Tris. Parlindungan Marpaung seorang Training dan Consulting menuliskan bahwa, Hidup yang mempercayakan merupakan penyerahan secara total kehidupan kita setelah kita mengetahui siapa yang kita percayai. Hidup yang memercayakan bukan berarti menyerah secara total dan pasrah tanpa penyertaan akal budi untuk melihat realitas yang ada. Ketika seorang wanita benar-benar mempercayakan kebahagiaannya kepada seorang lelaki, berarti dia telah mengetahui seluk beluk lelaki tersebut dan yakin bahwa lelaki tersebut akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Sama halnya dalam sebuah Tim, akan semakin solid dan memiliki performansi tinggi (High Performance Team) pada saat seluruh anggota dan pengurusnya saling mempercayai. Seorang pemimpin yang mempercayakan pekerjaannya kepada karyawan akan memberikan penugasan yang jelas, serta standar hasil yang telah disepakati bersama. Bahkan seorang karyawan yang mempercayakan diri dan keluarga pada perusahaan akan mengembangkan rasa memiliki terhadap perusahaan. baginya, dia akan berfikir dua kali jika akan melakukan hal-hal yang merugikan perusahaan, karena perusahaan adalah lahan pertanian yang harus dirawat supaya tetap akan menghasilkan.
Dalam kehidupan spiritual, mempercayakan diri kepada Sang Pencipta berarti sadar bahwa Dia Maha Kuasa dan Maha Tahu serta Maha Besar. Mempercayakan diri kepada Sang Pencipta berarti mengenal Dia melalui kehidupan ibadah yang baik, membaca Kitab Suci, beramal kepada sesama, dan sebagainya. Terkadang dalam pengakuannya, manusia percaya kepada Kebesaran dan Kemahakuasaan Sang Pencipta, namun tidak melakukan penyerahan secara total sehingga dia tetap saja merasa khawatir dan gentar ketika menghadapi permasalahan besar. Semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua…Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

CATATAN TENTANG PATAH HATI


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Jika mendengar kata patah hati, pasti yang terlintas di benak kita adalah tentang cinta yang kandas. Cinta yang putus sampai disini saja. Tentang perpisahan, tentang air mata yang berlinang, tentang perihnya hati seperti tersobek-sobek, berdarah-darah, teriris-iris dan semua yang menyebabkan dunia serasa mengalami kiamat kubra. Katanya “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati.” Wew… apa iya patah hati seperih itu lukanya?
Terkadang hati saya bimbang dan juga bingung kenapa setiap cinta yang putus, yang kandas itu diberi judul dengan patah hati. Apa tidak ada istilah lain yang lebih gaul gitu? Misal “reinkarnasi cinta” atau “metamorfosis hati” atau “kempompong basi”.
Pokoknya jangan pakai istilah hati yang patah, kan pada kenyataannya tidak separah itu tho? Tapi, sudahlah. Apapun istilahnya tetap saja putus, ya? Yang jelas bukan istilah tersebut yang jadi permasalahan, namun, bagaimana ketika cinta itu kandas, ketika cinta itu tak lagi tersambung, ketika cinta tersebut tidak mau lagi menjadi milik kita, dan ketika si dia tak mau lagi menjadi tempat penitipan hati kita. Seharusnya kita lebih bersyukur masih bisa diberi rasa patah oleh Allah. Kita masih bisa menangis, itu artinya kita masih punya hati, kan? buka sekadar hati, tapi hati yang sensitif, hati yang lembut. Hati yang mampu merasakan bahagia dan luka. Air mata yang mengalir dari mata ini bisa membersihkan kelopak mata kita yang kusam menjadi bening kembali. Air mata yang berlinang membawa semua kotoran dimata sehingga bening kembali kelopak mata kita. Bayangkan jika sebulan kita tidak menangis, apa tidak perih tuh mata? Menangislah karena Allah. Air mata ini jauh lebih bernilai pahala daripada menangsi si dia. Orang yang ditangisi pun tak tahu atau bahkan tak peduli kalau kita nangis.
Sebenarnya masih ada lagi hikmah dibalik kata patah hati ini. Coba bayangkan, ketika jatuh cinta kemarin rasanya mendengar suara si dia (meski hanya lewat telpon) lebih indah di telinga dari pada suara adzan. Sms mesra dari sang pujaan hati lebih sering kita baca-baca sampai berulang-ulang agar lebih mengerti artinya dan lebih bergetar mencintainya dan cetar membahana. Coba hitung, seberapa sering kita membaca ulang sms-sms, surat cinta, email dari si dia dari pada kita membaca surat cinta dari Allah, yang tertuang lewat Al-Qur’an? Ah, sungguh cara mencintai yang salah kaparah !
Kini setelah tak ada lagi SMS dari si dia, tak ada lagi suara indahnya, hikmah mulai terlihat. Dibalik hati yang teriris-iris berdarah-darah ini, Allah hendak mengembalikan kita kepada cinta-Nya. Apa ada cinta yang lebih indah dari pada cinta sang pemilik nafas ini? Pastinya tidak ada, kan?
Jadi, ketika kita patah hati, gantilah kata patah hati tersebut dengan syukur hati karena ternyata Allah lebih mencintai kita daripada dia. buktinya Allah mengambil kita untuk dikembalikan ke dalam keharibaan, limpahan kasih sayang dari kekasih hati yang baru dan selamanya, yaitu Dia, Allah Ta’ala. Siapa sih yang tidak mau jadi kekasih Allah? Rasanya tenang, damai, dan indah. Cukuplah rasanya hidup ini. Bisa dikatakan SAYA + ALLAH = CUKUP.
Semoga bermanfaat…Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Senin, 04 Maret 2013

DAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Baru saja membaca post wall mario teguh tentang berdamai dengan diri sendiri. Bermaafan dengan diri sendiri, dan berlaku lembut dengan diri sendiri. Sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya. Kalau dipikir-pikir, betul juga ya. Ahh…susah dijelasin… Silahkan baca sendiri note dari Pak Mario ini.
Engkau yang merasa entah mengapa, kehilangan tenaga dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang penting bagi hidupmu, dengarlah ini … Kehidupan ini berlanjut.
Apakah engkau mengeluhkannya, memprotesnya, atau mensyukurinya, … kehidupan ini berlanjut.
Tapi engkau tak sendiri.
Ketahuilah bahwa di balik cadar keanggunan, atau tameng kegagahan, dan di balik semua keceriaan dan tawa lantang yang menggema dalam pergaulan yang popular itu, … sesungguhnya banyak tergelatak hati yang galau, yang tak bertenaga, yang letih dengan kepura-puraan, yang ingin berteriak seliar-liarnya, yang ingin berlari kencang membuta menghilangkan diri, dan yang ingin menangis sejadi-jadinya di tengah seramai-ramainya kerumunan.
Sesungguhnya engkau tak sendiri, maka kasihilah sesamamu sebagaimana engkau seharusnya mengasihi dirimu sendiri.
Sesungguhnya tidak mudah menjadi dirimu.
Orang di sekitarmu menuntutmu untuk memenuhi standar mereka tentang apa yang disebut berhasil, mecemoohmu jika engkau tak tampil seperti telah berhasil, menertawakan impian-impianmu, meragukan kesungguhanmu, dan menuntutmu menggembirakan mereka dengan menelantarkan kebutuhanmu untuk hidup damai dengan dirimu.
Kasihilah dirimu.
Janganlah memarahinya karena kesalahan yang tak disengajanya, atau yang dilakukannya karena ketidak-tahuannya.
Bersabarlah dengan kelambanannya dalam memperbaiki dirinya.
Bukankah engkau yang selalu mengatakan bahwa manusia itu tak sempurna? Lalu, mengapakah engkau memarahinya karena ketidak-sempurnaannya?
Dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu.
Apakah engkau tak merasa kasihan melihat upayanya untuk menggembirakan orang-orang tamak yang sombong, yang lebih kaya darimu, yang diharapkannya akan melebihkan pemberian kepadamu jika dia melebihkan tawa dan pujian bagi mereka?
Dirimu itu sesungguhnya telah letih melayanimu, yang banyak bermimpi tapi malas bertindak, yang banyak memprotes tapi mudah tersinggung, dan yang minder tapi sombong.
Turunkanlah suaramu sebentar, dan berbicaralah dalam nada suara yang lebih penyayang kepada dirimu.
Turunkanlah hidung dan wajahmu yang banyak mendongak untuk mengesankan rasa percaya diri itu, dan ramahkanlah wajahmu saat engkau melihatnya di cermin.
Berlakulah lebih jujur kepada dirimu.
Inginkanlah yang besar, tapi ikhlaslah melakukan yang sederhana dan yang dalam kemampuanmu untuk melakukan.
Bersegeralah melakukan yang kau rencanakan dan setialah mengerjakannya sampai selesai, agar dirimu mempercayai janji-janjimu kepadanya.
Duduklah lebih dekat dengan dirimu sendiri. Bersahabatlah dengannya.
Janganlah engkau membuatnya merasa tak kau butuhkan,karena kau sesali semua kekurangannya, sambil melupakan kelebihan dan kebaikannya.
Minta-maaflah kepada dirimu.
Dari semua yang paling membutuhkan permintaan maaf atas kesemena-menaan cara hidupmu, adalah dirimu sendiri.
Mudah-mudahan, dalam persahabatan yang ramah, penuh hormat, dan penuh kasih dengan dirimu sendiri itu, Tuhan mengutuhkanmu dengan dirimu sendiri dalam satu kesadaran jiwa yang semakin mulia dengan semakin bertambahnya usiamu.
Karena sesungguhnya, engkau dan jiwamu itu satu.
Tapi kesejatian jiwamu yang mulia itu, terbelah menjadi seperti dua bagian yang saling tak mendamaikan.
Karena, kesejatian jiwamu itu tak mungkin menjadi tetap utuh, dengan kau ijinkannya nafsu yang buruk sebagai pengganti dari tenaga jiwamu yang suci.
Maka, dekatkanlah dirimu kepada Tuhan, sedekat-dekatnya, dalam kemanjaan yang syahdu, dan dalam keharuan tangis jiwamu yang jujur.
Karena, di dalam kedekatan itulah engkau disucikan.
Karena, Tuhanmu tak mengijinkan apa pun yang kotor mendekat kepadaNya.
Jiwamu yang dekat dan manja kepadaNya, akan dibersihkan.
Dan di dalam kebersihan jiwamu itulah kedamaianmu tumbuh.
Sekarang … tundukkanlah diri dan jiwamu, dalam semesra-mesranya sujud di hadapan Tuhanmu yang merindukan tangis manjamu.
Wahai jiwa yang tenang … indahkanlah senyum di wajahmu itu.
Tuhanmu sedang memandangimu dengan penuh kasih.
Mario Teguh – Dengan hati yang penuh kasih kepadamu, … sahabatku

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

PENGORBANAN DEMI ORANG LAIN

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Masih ingatkah kita dengan tsunami yang terjadi di Jepang tahun 2012? Yah, ada sedikit pelajaran penting yang dapat kita jadikan sebagai bahan renungan, yaitu kisah Takeshi Miura and Miki Endo, mereka adalah petugas keselamatan yang berperan penting saat tsunami Jepang terjadi. Mereka berdua terus bertahan di pos dan menyerukan siaran agar semua penduduk segera lari menyelamatkan diri.
Ketika ombak tsunami tinggal 10 meter lagi menerjang, dua petugas ini tetap meneruskan siaran peringatan, dan ini dilakukan hingga saat-saat terakhir tubuh mereka berdua tewas disapu gelombang besar.

Dalam film Vertical Limit, yang popular di pertengahan tahun 2004 silam, dipaparkan tentang bagaimana seorang ayah yang rela memutuskan tali pengamannya sehingga jatuh dari tebing curam demi menyelamatkan dua orang anaknya. Nha, kisah diatas adalah sebuah pengorbanan. Lantas, apa sih pengertian dari pengorbanan tersebut?
Pengorbanan adalah kata yang mengisyaratkan suatu bentuk pemberian secara total. Dalam pengertian lain, pengorbanan berdampak pada munculnya kesadaran untuk senantiasa memperbaiki tingkah laku ke arah yang lebih baik. Misalnya : Seorang ayah menjadi mengerti arti ayah yang sesungguhnya ketika sang anak harus tergolek lemah di rumah sakit karena sakit yang parah. Atau orang tua yang tersadar setelah melihat anaknya harus diamputasi tangannya karena hukuman yang diberikan kepada sang anak melebihi batas (keterlaluan).

Sebenarnya masih banyak contoh yang berkaitan dengan sebuah pengorbanan, namun, apa yang saya tulis disini hanyalah sebagai bahan renungan buat diri saya, yang masih sering egois dan  acuh terhadap lingkungan sekitar. Merelakan diri untuk turun melayani orang lain merupakan langkah pengorbanan yang dapat dirintis. Mengorbankan waktu (dalam kerangka kualitas waktu) untuk mewujudkan cinta kasih kepada keluarga merupakan investasi yang tidak ternilai. Mengorbankan waktu kebersamaan dengan keluarga secara proporsional untuk hadir ditengah-tengah permasalahan darurat perusahaan akan semakin membangkitkan kebanggan diri dan keluarga terhadap perusahaan. Atau mengorbankan waktu luangnya untuk membantu permasalahan yang sedang menimpa salah seorang teman yang sedang kesusahan akan semakin menambah eratnya tali pertemanan. Dan masih buanyaaak lagi..hehehe
Yang jelas pengorbanan yang tulus tidak selalu memperoleh imbalan yang setimpal, bahkan terkandang hingga akhir hayat pun tidak dapat dilihat hasil maupun imbalannya. Atau mungkin suatu pengorbanan kita malah dibilang pamer atau  tidak tulus? tidak masalah, jangan khawatir, selama niat kita baik dan tulus, InsyaAllah akan ada imbalannya, entah itu di dunia atau di akhirat.hehe
Pengorbanan merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai manusia, untuk hand to hand  dengan sesama. Pengorbanan juga merupakan ungkapan syukur untuk berbagikepada sesama karena kita telah menerima karunia kasih sayang-Nya dalam setiap sendi kehidupan. Setiap perbuatan baik dan pengorbanan yang dilakukan tidak akan luput dari penglihatan Sang Pencipta yang dapat memberi balasan setimpal dengan apa yang telah diberikan.

Horace Mann, dalam salah satu tulisannya menyebutkan, "Kita paling menguntungkan diri sendiri ketika kita berbuat sesuatu bagi sesama."  

Jadi, Yuk mari kita saling bersikap baik dan murah hati, serta berkorban dengan tulus kepada sesama, agar hidup kita jauh lebih bermanfaat dan lebih baik. Amin.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb 

UJIAN HIDUP

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Membaca judulnya saja membuat saya sedikit minder dan membawa kepada kehidupan saya yang selalu kurang beres,hahaha Membuat saya berfikir apakah ini sebuah ujian atau memang gara-gara ulah saya sendiri,hehe Tapi yang jelas disini saya tidak akan membahas tentang kehidupan saya, saya hanya ingin nge-share tentang makna ujian hidup yang saya peroleh dari beberapa sumber. Semoga bermanfaat bagi saya atau mungkin para pembaca sekalian. Amin.
Socrates pernah berkata bahwa hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi (unexamined life is not worth living). Hanya ada satu tempat di dunia ini dimana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Berarti, tanda bahwa manusia tersebut masih hidup adalah ketika dia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan. Lebih baik kita tahu mengapa kita gagal dari pada kita tahu mengapa kita berhasil. Bili P. S. Lim dalam bukunya Dare to Fail mengatakan bahwa banyak orang menterjemahkan ujian hidup dan penderitaan sebagai suatu bagian dari kegagalan. Itulah sebabnya ia mengatakan "No failure, only success delayed." (Tidak ada kegagalan, hanya sukses yang tertunda).
Parlindungan Marpaung, Drs., Psi., MT., MA dalam bukunya "Setengah Isi Setengah Kosong" menuliskan bahwa seorang profesor pernah menerangkan bagaimana perak harus dimurnikan sebanyak tujuh kali. Perak yang masih kotor harus dipanaskan dan dilelehkan, karena perak berberat jenis cukup besar, maka ketika dipanaskan dia akan turun dan kotorannya akan naik. Saat itulah, kotoran-kotoran yang sudah naik tersebut disaring dan dibersihkan. Setelah mengalami permbersihan tahap pertama, maka kembali perak tersebut dicairkan untuk kedua kalinya lalu disaring kembali. Hal ini harus dilakukan berulang kali untuk mencapai tingkat kemurnian yang diharapkan. Setelah tujuh kali, barulah perak itu murni, tinggal menyisihkan kotoran-kotoran yang halus saja. Alhasil, setelah melalui berkali-kali proses pembersihan, perak itu bisa begitu cemerlang bagaikan cermin. Padahal, ketika masih kotor, betapa sulitnya untuk bercermin pada perak tersebut. Namun, setelah tujuh kali dipanaskan, orang baru dapat melihat wajahnya sendiri pada perak tersebut.
Nha, tampaknya kita perlu merenungkan kembali, kita bisa memetik dari pelajaran pemurnian perak yang sampai tujuh kali tersebut.Bahwa ketika "kotoran hidup" (karakter, watak dan kebiasaan negatif sulit lekang sekalipun sudah berkali-kali berusaha untuk meninggalkannya), maka kita tampaknya perlu masuk dapur api pengujian hidup agar dapat menemukan kembali makna hidup itu sendiri. Memaknai setiap ujian hidup, akan menjadi sangat berarti bagi kita untuk meraih dan menikmati hikmahnya. Apa masalah kita saat ini? Keluarga yang tidak harmonis? Uang yang selalu tidak cukup ditengah-tengah kenaikan biaya hidup yang semakin tinggi? Atau karier yang tidak berjalan mulus? Apapun permasalahan kita sekarang, yang jelas mari kita renungkan kembali, bahwa matahari akan selalu tetap bersinar. Seandainya saat ini mendung, bukan berarti matahari berhenti bersinar. Mungkin ini kesempatan untuk menikmati keteduhan, barang sejenak melakukan refleksi hidup, atau Sang Pencipta hendak "berbicara" banyak kepada kita karena ketika kita sibuk ada kalanya suara-Nya nyaris tak terdengar. Cepat atau lambat mendung akan berlalu dan matahari akan menunjukkan wajahnya kembali. Kalaupun mendung berubah menjadi hujan, habis hujan pasti tampak pelangi yang indah.
Dalam The Bamboo Oracle, dikisahkan pohon bambu (Bamboo) yang sudah hidup enak dalam rumpunannya harus ditebang dan menderita sakit yang amat sangat karena tubuhnya dipotong-potong. Namun, ketika  ia tahu bahwa tubuhnya dipergunakan untuk saluran air bagi masyarakat, obor, kentongan, dan lemang, Sang bambo sadar bahwa dirinya mampu memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Begitu juga dengan kehidupan kita, atau ujian hidup yang sedang kita alami saat ini, mungkin kita sedang disiapkan untuk memberikan jalan amal kebahagiaan orang lain. Itulah sebabnya Seorang sufi mengajarkan kepada kita ketika ujian hidup datang menghampiri kita, hendaknya kita jangan berdo'a agar ujian tersebut cepat berlalu, namun, berdo'alah agar diberikan kekuatan untuk  melalui dan menghadapi ujian hidup. :)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb