Minggu, 19 Mei 2013

Dalam Keterbatasan Kita, Allah Titipkan Cinta

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Dalam keseharian kita bisa menyaksikan, bagaimana Allah menciptakan kondisi hambaNya dengan macam rupa. Allah lebihkan sebagiannya, dan Allah uji sebagian lainnya dengan jauh dari kata cukup. Tapi entah mengapa? diri ini lebih sering menilai semua itu sebagai fenomena hidup yang lumrah, bukan dengan kaca mata keimanan. Padahal ada cerminan cinta Allah di sana, yang semestinya bisa membuat diri ini lebih bersyukur.
Sebab, dalam segala keterbatasan yang orang lain miliki, sebenarnya bisa saja Allah limpahkan kepada kita. Akan tetapi, Allah menangguhkannya atau sama sekali memang menjaga kita agar tak mengalami keterbatasan itu. Lantas, bila hati ini bertanya di mana cinta Allah ketika itu, sebenarnya inilah cara Allah menjawab cinta.
Ya. Cinta Allah tak sama dengan cinta manusia. Allah menjabarkan cintaNya dalam cerita yang sering tak terduga. Ia hadirkan kita ditengah-tengah keluarga yang sederhana, agar kita lebih mengenal makna syukur dan sabar. Ada orang yang mengalami kecacatan fisik, mungkin Allah ingin dia lebih maksimal mengfungsikan organ tubuh yang lain.
Sederhananya, segala keterbatasan itu adalah cara Allah menjaga kita untuk terus dekat denganNya. Oleh karenanya, pribadi yang terus khawatir dengan kehidupannya sekarang, yang menilai keterbatasannya saat ini sebagai penghambat hidupnya, adalah mereka yang belum mampu mengecap manisnya kasih sayang Allah dalam sisi kehidupannya.
Sebab, berlapang hati dengan ketentuan Allah terhadap diri kita sekarang, bukan hanya sekedar menghibur jiwa. Jauh dari itu, ini adalah sikap yang memang harus dimiliki seorang yang mengaku beriman. Bahwa ia mempercayakan kehidupannya hanya kepada Allah semata. Totalitas kepasrahan inilah nantinya yang menggiring manusia untuk lebih siap, dan tak lagi mendesak untuk bertanya. Mengapa hidupku begini?
Sekarang cobalah renungkan, sebenarnya apa yang terbayang dibenak ini, saat melihat orang di sekitar kita yang hidupnya begitu memprihatinkan. Memiliki fisik yang tak sempurna, kondisi ekonomi yang menggetirkan, kesempatan pendidikan yang sekedarnya serta keterbatasan-keterbatasan lain yang dalam penilaian kita, semua itu adalah penghambat dalam menggapai tujuan hidup.
Lalu cobalah mengukur diri dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita sekarang, dan temukan manisnya cinta Allah di sana. Karena sesungguhnya, hidup yang terasa berat bukan karena dunia yang tak bersahabat. Melainkan, karena iman yang tak terawat. Ya, dalam keterbatasan kita, Allah telah titipkan cinta.
“Sungguh, sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim).

Wassalamu;alaikum Wr. Wb

Sumber: Anak kampung pikiran global

Ketika Kita Merasa Aman dengan Dosa Sendiri

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kisah Bani Israil saat Allah tidak menurunkan hujan pada mereka dalam waktu yang lama. Bisa menjadi pelajaran penting bagi kita. Bahwa saat kita merasa aman dengan pembangkangan. Merasa bahwa dosa kita tidak memiliki pengaruh apapun pada alam ini. Sesungguhnya itu adalah sebuah kekeliruan yang besar.
Saat itu doa nabi Musa belum juga terjawab. Ia memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan. Sudah sekitar satu tahun hujan tak kunjung turun. Ummatnya, Bani Israil. Mendesak Musa untuk segera memohon kepada Allah. Mereka sudah cukup menderita akibat musibah ini. Lalu Musa pun mengumpulkan mereka di lapangan. Di sanalah Musa bermunajat. Tapi entah mengapa? Setelah berulang kali berdoa. Allah tetap menangguhkan doa kekasihNya itu.
“Ya Allah, biasanya Engkau selalu mengabulkan permohonan kami, mengapa kali ini hujan tidak kunjung turun?” Ucap Nabi Musa.
Lalu Allah menjawab “Musa, hujan tidak turun karena di antara kalian ada orang yang bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun. Karena keburukan maksiatnya, Aku mengharamkan hujan dari langit untuk kalian semua.”
Allah memerintahkan agar orang yang bermaksiat itu keluar dari kumpulan Ummat Bani Israil itu. Di lapangan itu, tak kurang ada 70 orang yang hadir. Mendengar itu, segeralah Musa menghadap Ummatnya.
“Saudara-saudaraku Bani Israil, aku bersumpah bahwa di antara kita ada orang yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun. Akibat perbuatannya itu, Allah tidak menurunkan hujan untuk kita. Hujan tidak akan turun, hingga orang itu pergi. Maka, usir orang itu dari sini.” Teriak Musa.
Pelaku maksiat itu sadar. Bahwa dirinyalah yang dimaksud Allah itu. Ia pun berniat untuk keluar, tapi sebelumnya  ia memperhatikan sekiling. Berharap ia tidak sendiri, ada yang lainnya juga keluar dari barisan. Namun ternyata tak ada seorang pun keluar. Ia pun menjadi ketakutan. Ini berarti, hanya dirinyalah yang bermaksiat kepada Allah di sini.
Diam-diam pelaku maksiat ini bertaubat kepada Allah. Menyesali segala kesalahannya di tengah kaum Bani Israil itu. “Ya Allah, aku telah bermaksiat kepada-Mu selama 40 tahun. Aku mohon Engkau menutupi aibku. Jika sekarang aku pergi, pasti dilecehkan dan dipermalukan. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. Terimalah taubatku dan tutupi aibku ini.” Sesalnya.
Seketika hujan pun turun dari langit. Terkejutlah Musa, mengapa Allah menurunkan hujan. Padahal belum ada ummatnya yang dimaksud telah bermaksiat itu keluar dari barisan. Lalu Allah pun berfirman “Musa, hujan turun karena Aku gembira, hamba-Ku yang bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun itu telah bertaubat.”
Turunnya hujan saat itu adalah pertanda, bahwa taubat pelaku maksiat ini telah Allah terima. Allah pun menutup kembali aibnya. Ia tidak harus keluar dari barisan, yang tentu saja bisa menjadi petaka karena orang-orang akan menyalahkan dirinya.
Allah memerintahkan langit untuk menangguhkan hujan. Agar hamba ini sadar, bahwa ia telah begitu keliru bermaksiat kepada Allah. Dalam waktu yang cukup lama, 40 tahun. Inilah bahasa alam yang sering membuat kita tak sadar. Maka pada shalat istisqa, kita diperintahkan untuk beristighfar. Memohon ampun kepada Allah.
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS.Hud: 52)
Karena mungkin saja, tertangguhkan hujan di langit, karena dosa-dosa kita yang tak kita sadari. Dan taubat adalah jalannya. Taubat adalah kehendak tulus kita untuk kembali ke jalan Allah. Maka turunnya hujan pada kaum Bani Israil itu, adalah bahasa cintaNya Allah. Allah bahagia karena hamba tersebut kembali ke jalanNya.
Inilah jebakan perasaan yang sering membuat kita lalai. Ketika kita merasa aman dengan dosa sendiri. Penyebabnya, mungkin saja karena akumulasi dosa-dosa kita yang begitu panjang. Sehingga dosa itu tak lagi menerbitkan gelisah di hati. Dan tentu saja, karena kita terus menunda taubat.
Jebakan perasaan lainnya, kita menganggap bahwa dosa kita ini, hanyalah urusan kita pada Allah semata. Tak memiliki pengaruh apapun pada orang lain. Tentu ini pemahaman yang keliru. Padahal, kalau kita mau merenung sejenak. Rangkaian bencana yang terus menimpa negeri ini, secara tidak langsung kita turut andil sebagai penyebabnya. Dosa-dosa kita itulah yang mengundang bencananya Allah.
Karenanya, kita memang harus peka mengenal teguran-teguran Allah melalui bahasa alam ini. Segeralah memohon ampun kepada Allah, gugurkanlah segala dosa kita dengan istighfar kepadaNya. Sebab, ketika kita merasa aman dengan dosa sendiri. Bukan hanya kita yang merugi, tapi juga ada banyak orang yang secara tidak langsung kita zalimi.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Sumber: Anak kampung Pikiran global

Sabtu, 18 Mei 2013

Meski Yang mereka punya, hanya sekedar rindu

Assalamu'alailkum Wr.Wb

Diam-diam orang tua tetap tak bisa menahan perasaannya, saat anak yang dicintainya memutuskan untuk pergi. Sedapat mungkin ia berusaha tegar. Menguatkan diri. Mereka sadar bahwa kala itu pilihan mereka tak banyak, hanya kepasrahan. Kala kita memutuskan untuk pergi meninggalkannya, saat itu pulalah mereka mulai memendam rindu. Rindu yang lahir dari cinta yang tak pernah putus.
Menceritakan jasa orang tua memang tak ada habisnya dan selalu mengharukan. Kekuatan cinta mereka telah memvisualisasikan sisi malaikat pada dirinya, hingga keletihan tak lagi mereka kenal. Setiap pengorbanannya adalah riwayat cinta yang sangat patut untuk dikenang. Oleh karena itu, perjuangan orang tua selalu saja melegenda dalam riwayat sejarah.
Interaksi orang tua kepada anak adalah interaksi batin yang kompleks. Di sana ada emosi, cinta, rindu, benci juga ada. Tapi semua rasa itu dalam bingkai kearifan. Yang ujungnya terkadang sulit kita cerna. pada batas inilah, anak kerap bersebrangan pada orang tua. Konflik yang terjadi karena tak adanya sinergisitas pemahaman. Terkadang sang anak hanya melihat masa depannya dalam prespektif dirinya sendiri, tapi orang tua melihat lebih jauh lagi. Menembus kabut-kabut yang tak terjangkau oleh nalar kita.
Di sinilah loyalitas anak terhadap orang tuanya teruji, bagaimana ia mesti mematuhi setiap keputusan orang tuanya yang masih belum mampu ia pahami dengan baik. kita bisa saja membantah tapi tetap saja ada seninya. Seninya yang membuat hati mereka tidak terlukai. Sebab, mencenderai hati mereka adalah sesuatu yang sangat fatal. Dampaknya tidak hanya pada masa depan akhirat, tapi berbalas langsung oleh Allah di dunia ini.
Coba ingat Seberapa banyak keputusan orang tua yang sering tidak kita indahkan, lalu perhatikan dampaknya. apakah kita yakin cara kita menolaknya tidak menimbulkan luka apapun di hati mereka. Diamnya orang tua saat keputusannya sering tidak kita indahkan, adalah wujud lain dari kearifan mereka. Namun ketahuliah, ada pergolakan batin di sana. Di hati kecil yang mungkin saja telah kita lukai.
Dalam bait-bait doa mereka kita tak pernah tahu, apa yang dipanjatkannnya untuk kita. seperti cerita tentang seorang pemuda yang pergi meninggalkan ibunya seorang diri, ia mengira keputusannya sudah benar. Sebab, ia pergi untuk sesuatu yang mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Namun Ia lupa pada satu hal penting dari tujuan mulianya itu, keridhaan orang tua. Hingga tanpa ia sadari ibunya sakit hati lalu berdoa agar Allah memberikan pelajaran atas perlakuan anaknya itu.
Nasib pemuda itu tragis ia tak sampai ke Baitullah. ketika melaksanakan shalat di sebuah desa ia dikira pencuri oleh masyarakat sekitar. Karena mereka melihat pencuri yang mereka kejar-kejar lari ke dalam sebuah mesjid dan di sanalah mereka mendapati pemuda itu sedang shalat. Tanpa pikir panjang warga desa itu menghakimi pemuda ini hingga kaki dan tangannya patah, bahkan matanya hampir buta.
Demikianlah, keridhaan orang tua berbanding lurus dengan keridhaan Allah. Seperti yang diungkapkan Rasulullah SAW:
“Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Tarmidzi).
Maka berupayalah sedapat mungkin untuk tidak meninggalkan luka apapun di hati mereka. Bersegeralah memohon maaf bila kita khilaf atau salah pada mereka, itu lebih baik. Karena terus mendiamkan salah kita terhadap mereka, bisa menjadi bom waktu bagi masa depan kita kelak.
“Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya maka dia kafir. (HR. Muslim)”.
Kala kita memutuskan untuk pergi meninggalkannya, saat itu pulalah mereka mulai memendam rindu. Rindu yang lahir dari cinta yang tak pernah putus. Maka, sebelum Allah memanggilnya. Ramaikanlah hatinya, sapalah jiwanya dan jagalah selalu perasaannya. Karena mungkin, saat ini yang mereka punya hanya sekedar rindu.

Wassalamu;alaikum Wr. Wb

Sumber: Anak kampung pikiran global

Rencankanlah Sesuatu yang Istimewa bagi Mereka

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kita punya kerinduan apa pada mereka, pada wajah-wajah yang semestinya membuat diri ini cemas. orang tua, guru, sahabat atau siapa pun yang telah sangat berjasa terhadap capaian hidup kita hari ini. Cemas, karena hingga kini kita belum mampu membahagiakan mereka. Cemas, sebab dari waktu ke waktu, diri ini lebih sering mengecap manisnya jasa-jasa mereka. Tanpa pernah tahu sampai kapan semua itu berbalas.
Semestinya kita punya sebentuk rindu yang indah terhadap mereka. Rindu yang mampu menghadirkan senyum saat mereka mengetahui, bahwa kebajikannya selama ini telah mengantarkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karenanya rencanakalah, sesuatu yang istimewa untuk mereka, orang-orang yang telah berjasa itu. Meskipun hanya sekali dalam hidup.
Inilah diri kita sekarang, dengan segala pencapaian yang kita miliki. Dalam rentang waktu di mana kita pertama kali melihat dunia hingga menghirup berupa-rupa rasa. Sadar atau tidak, bila diri ini mau jujur, sebenarnya telah begitu banyak jasa orang lain yang telah kita cicipi.
Adakalanya kebaikan itu mereka tawarkan sendiri. Mereka tak kuasa melihat kita bersusah payah menjalani hidup. Atas nama cinta mereka memberikannya. Tapi, tak jarang pula, bahwa mereka menunaikan rencana kebajikannya itu secara diam-diam. Sampai-sampai kita sendiri mengira bahwa semua yang telah kita dapat adalah utuh kerjas keras kita. Tanpa campur tangan siapa pun.

Lantas, bila telah demikian, dari sepanjang garis hidup yang telah kita lalui, tak adakah satu saja dari potongan episode kehidupan itu yang menjelaskan tentang keberartian. Tentang balas budi. Padahal mungkin saja, orang-orang yang berjasa itu, hingga kini masih melantunkan doa. Memohon pada yang Maha Kuasa agar kita baik-baik saja, disegerakan segala mimpinya.
Akan tapi alangkah pilunya. Bila sampai detik ini jangankan merencanakan. Karena terus menikmati jasa mereka, kita justru menjadi lupa akan hadir mereka dalam setiap ikhtiar kita. Padahal hati kecil kita telah lama berdengung. segeralah balas kebaikan itu.
 Sekali waktu pernahkah kita bertanya. Apa yang menggerakkan pribadi tulus itu untuk mau berkorban demi orang lain? Seorang ayah yang meskipun letih, masih menyempatkan mendengar keluh anaknya. Seorang guru yang tetap sabar mengulang pelajaran, sebab muridnya yang tak kunjung paham meskipun sudah sangat jelas. Atau seorang teman yang terkantuk-kantuk menjaga kita kala sakit, saat diri ini terpisah jauh dari keluarga.
Baik besar atau pun kecil, setiap peran mereka tentu saja punya keberartian dalam hidup kita. Sebentuk kerinduan yang mereka miliki sebenarnya sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum kita. Membuat kita punya alasan untuk bahagia dalam setiap keseharian yang kita lalui.
Namun karena ketulusan, kerinduan yang tampaknya sederhana itu menjadi begitu istimewa. Hingga Rasulullah anjurkan agar kita menyambut setiap kebaikkan orang lain dengan kebaikkan pula.

Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya; namun jika menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkarinya…” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad.  no. 157).

Ya, rencanakanlah, sesuatu yang istimewa untuk mereka, orang-orang yang telah berjasa itu. Meskipun hanya sekali dalam hidup. Sebab, saat kita bahagia karena apa yang kita impikan selama ini telah dalam genggaman. Di sudut sana, mungkin saja, ada orang yang diam-diam mengulum senyum. Mereka turut merasakan kebahagiaan, karena apa yang mereka doakan selama ini baru saja menjadi kenyataan.

Wassalamu;alaikum Wr. Wb

Sumber: Rumah Cahaya

Ar Rijalul Fajr

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Keterjagaan pertama menjelang subuh adalah tawaran cinta. Akan tetapi, bila kita segera bangkit lalu membasuh wajah dengan wudhu, itulah  namanya cinta yang bersambut. Karena subuh adalah waktu tentang pembuktian cinta. Saat-saat kenikmatan melanjutkan tidur  berada pada titik puncaknya.
Hingga tak semua orang mau menyambut tawaran cinta itu. Hanya sebagian saja. Mereka adalah orang-orang kuat, bukan kuat secara fisik. Tapi jiwanya, karena telah berhasil menaklukkan godaan paling hebat tersebut. Itulah mereka, Ar Rijalul Fajr, manusia-manusia subuh. Orang-orang luar biasa, yang memulai harinya dengan amal-amal yang luar biasa pula.
Maka Subuh adalah tentang kerelaan. Rela menggadaikan kenikmatan tidur dengan menyambut seruan Illahi. Subuh adalah tentang kemerdekaan jiwa. Merdeka karena berhasil menaklukan godaan nafsu, dan bersegera mengikuti seruan qalbu.

Subuh juga tentang pembuktian identitas kita. Apakah kita termasuk orang yang munafik atau tidak. Seperti apa yang diungkapkan Rasulullah:  “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh”(HR.Ahmad).

Tentu kita tidak ingin berada dalam golongan orang yang paling dimurkai Allah itu. Tapi semua itu kembali pada kesungguhan diri ini. Sebab, setiap kita, siapapun itu, sebenarnya mendapatkan tawaran cinta tersebut. Allah menaburkannya setiap pagi. Hanya saja setiap kita tentu tidak memiliki getar yang sama untuk menyambutnya.

Ar Rijalul Fajr, begitu hebatnya mereka. Ribuan malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan. Sampai-sampai Rasulullah memberikan doa khusus bagi mereka, karena keberkahan ummat ini ada pada mereka.

”Ya Allah” Dengan penuh cinta Rasulullah bermunajat, “Berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Subuh adalah moment yang selalu dinantikan bagi Ar Rijalul Fajr. Di sana mereka menemukan kenikmatan yang sebenar-benarnya. Saat kaki-kaki mereka melangkah ke mesjid.  Meresapi gema azan yang sahut-menyahut di saat gelap masih menggantung di langit. Saat itu mereka berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya. Pada lisanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya” Kemudian di ujung doa itu semua harap tersebut terhimpun,  waj’alni nuuran ”dan jadikanlah aku cahaya”.
Ar Rijalul Fajr, pada merekalah kita saksikan. Betapa hangatnya cinta Illahi di kala sejuknya pagi.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Sumber: Blog anak kampung pikiran global

Jumat, 17 Mei 2013

Niatkan Dalam Hati Ketika Berwudhu

Assalamu'alaikum Wr. Wb

1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, ampunilah dosa mulut dan lidahku ini"

2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, putihkanlah mukaku di akhirat kelak, Janganlah Kau hitamkan muka ku ini"

3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan ku ini"

4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini"

5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, lindunglah daku dari terik matahari di padang Mahsyar dengan Arasy Mu"

6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan,
"Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini"

7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, Jangan gelincirkan kakiku ketika aku melintasi titian Siratul Mustaqim nanti"

8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat serta ampunkanlah dosa2 aku"
Note :
〃 Jika rasa susah sangat hendak ingat semua itu, maka buat permulaan buat yang no 7 saja dulu pun tidak mengapa."
 
Wassalamu"alaikum Wr. Wb
 Sumber: Kajian rutin Malam minggu
 

MEKAH DAN MADINAH BERSINAR DI MALAM HARI

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Empat astronot Rusia dalam kunjungannya ke Riyadh, Sabtu (10/11/2012), disambut hangat Pangeran Salman yang tak lain juga mengepalai Lembaga Ilmu Penelitian Antariksa OASIS (PSSO) Saudi. Astronot tersebut adalah utusan dari Asosiasi Penjelajah Antariksa (ASE) yang datang memenuhi undangan Kerajaan Arab Saudi.

Empat astronot Rusia tersebut adalah Andrey Borisenko, Alexander Samokutyaev, Anton Shkaplerov, serta penerjemah mereka Boris Meshcherykov. Para astronot tersebut dijamu langsung oleh Pangeran Salman di istananya bersama Pengawas Umum PSSO, Khalid Abdul Gader.

Setelah dijamu Sang Pangeran, para astronot tersebut pun bercerita pengalaman spiritual mereka selama berada di luar angkasa kepada para mahasiswa di Lembaga Ilmu Pengetahuan OASIS Saudi. Para Astronot juga memperlihatkan foto-foto yang mereka ambil dari luar angkasa, khususnya foto-foto Makkah dan Madinah.

"Ketika berada di luar angkasa, kami mengambil foto-foto bumi sepanjang hari untuk dokumentasi. Namun, ketika malam hari, sangat sulit untuk mengambil gambar,'' kisah astronot Anatoly Ivanishin kepada para siswa yang hadir. ''Diperlukan teknik khusus untuk memainkan kamera agar bisa memperoleh gambar yang baik. Akhirnya saya berhasil mengambil banyak gambar dari berbagai kota di malam hari.''

''Yang membuat saya terkejut adalah ketika menemukan foto kota Makkah dan Madinah,'' lanjutnya. ''Kedua kota "outshone" itu benar-benar paling bersinar dari semua kota-kota lain di seluruh dunia."

Ivanishin juga menceritakan tentang kota-kota lain di seluruh dunia. Kota-kota tersebut tidak terlihat cerah pada malam hari. Namun, ketika ia memandang Makkah dan Madinah yang bersinar cerah dari luar angkasa, menjadikan sebuah "tontonan hati" baginya.

''Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya,'' tuturnya.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Sumber: blog.indojunkers. com