Jumat, 23 November 2012

Niat dan Ilmu itu PENTING…!!!


Assalamu’alaikum wr. Wb
Sebelum kita membaca artikel ini marilah kita menata niat dulu semoga dengan membaca artikel ini kita dicatat sebagai ibadah dan banyak manfaat yang kita dapatkan dari artikel ini. Amin…J
Mengapa kita harus meniatkan karena Allah SWT ?, sebab banyak sekali perbuatan-perbuatan atau amal-amal yang dilakukan dengan niat yang salah hanya akan mendapatkan hasil yang sia-sia. Banyak lho amalan akhirat tapi bisa berubah menjadi amal dunia. Misalkan Sholat. Sholat itu amalan Akhirat tapi jika kita melakukannya hanya agar mendapat pujian dari orang lain maka perbuatan tersebut berubah menjadi amal dunia. Karena sedang dilihat oleh pacarnya atau dosennya atau bahkan calon mertua (hahaha…) sholatnya dikhusyuk-khusukken, sampe-sampe baca takbir saja ngeden-ngeden..hehe. Membaca Al-qur’an itu adalah amalan akhirat tapi karena membacanya hanya demi mendapatkan pujian dari orang lain maka perbuatan tersebut menjadi amal dunia. Menunaikan haji termasuk amal akhirat tapi jika menunaikannya hanya agar dihargai orang, disegani orang, dihormatin orang maka haji tersebut hanya akan menjadi amal dunia. Kalau memang pengen dihormatin orang gak perlu lah naik haji, bawa bendera merah putih aja nanti juga dihormatin orang lain. Pengen di segani orang? Gak perlu haji, bawa sayur aja masuk warung, tar mesti di Segani,hehehe. Kalau hanya pengen dihargai orang lain gak perlu haji, kasih bandrol harga saja dijidat, nanti juga pasti ada yang nawar,haha...
Sebaliknya, banyak sekali perbuatan yang kelihatannya itu amal dunia tapi karena niatnya bener maka dicatat amal akhirat. Misalkan makan, makan itu amal dunia tapi kalau diniati ibadah maka makan tersebut menjadi amal akhirat. Tidur itu amal dunia tapi kalau diniati beribadah maka tidur tersebut menjadi amal akhirat. Maka dari itu niat itu penting.
Ada kyai bilang orang alim tidur lebih baik dari pada orang bodoh beribadah. Lhoh… kok bisa seperti itu? Sebab, orang alim jika tidur selalu berniat ibadah, buat istrahat agar badannya segar dan bisa melaksanakan ibadah kembali. Sedangkan orang bodoh biasanya melakukan ibadah tetapi niatnya salah. Jadi intinya ilmu itu penting, segala sesuatu itu pasti ada ilmunya. Kepengen berhasil dan sukses dalam bidang perdagangan maka haru ngerti ilmu perniagaan, kepengen pinter masak memasak maka juga harus belajar ilmu permasakan yang disebut tata boga, kepengen pinter dandan atau rias maka harus ngerti ilmunya dandan dan rias yang disebut tata rias. Itu baru urusan dunia, apalagi urusan akhirat. Amal akhirat juga membutuhkan ilmu, dari sholat, puasa, zakat dan haji semua membutuhkan ilmu. Sebab suatu amal tanpa disertai ilmunya maka amalan tersebut ditolak atau tidak diterima. Nih, Ada contoh amalan yang tidak diterima karena tidak mengetahui ilmunya. Lima orang bodoh melakukan sholat berjama’ah dengan 4 ma’mum dan yang 1 imam. Ketika imam belum selesai membaca Al-fatihah tiba-tiba salah satu ma’mum buang gas alias kentut, tapi g bunyi Cuma Ceeessss… gitu doang, karena baunya menyengat ma’mum yang disampingnya bilang “kamu kentut ya, baunya g enak”, sudah 2 ma’mum yang batal, sedangkan ma’mum yang ketiga kestrum (nyambung-nyambung) dan berkata “wes wes, temennya kentut dibiarin aja, orang sholat kok ngomong”, ma’mum yang ke empat ikut-ikutan juga,” heeeh..kalau ngingetin tuh nanti saja sehabis sholat, sholat itu gak boleh ngomong” ucap ma’mun yang ke-4. Akhirnya semua ma’mum batal semua tapi karena mereka tidak tahu ilmunya sholatpun dilanjutkan. Karena mendengar bisik-bisik dari keempat ma’mumnya dengan PeDenya sang imam menoleh ke belakang dan berkata “Ini ma’mum 4 aja kok ribut amat, kalau sholat tu diem kaya aku ini lho, sholat kok berisik”. Akhirnya kesemuanya baik ma’mum dan imam batal tapi karena tidak tau ilmunya ya dengan tidak merasa berdosa sholatnya tetap lanjut. hahah
Ada satu contoh lagi yaitu ketika imam dan ma’mum sedang sholat maghrib berjama’ah, karena sudah dapat 2 rekaat seharusnya melakukan tasyahud awal tapi karena ma’mum tidak mengetahui cara mengingatkannya, seharusnya sebagai ma’mum laki-laki cara mengingatkannya dengan cara mengucap “Subhanallah…” yang tujuannya untuk berdzikir dan  sebagai ma’mum perempuan seharusnya dengan cara menepuk sekali (bukan tepuk pramuka lho ya..Haha…) namun, karena ma’mum tidak ada yang mengetahui cara tersebut dengan gugup salah satu ma’mum menarik sarungnya sang imam, dan apa yang terjadi, sarungnya sang imam lepas dan tidak memakai celana, akhirnya semua ma’mum tercengang melihat pemandangan langka,wkwkwkwk malah ada ma’mum yang bilang “Wow..kereeeeen…” haha
Haji juga ada ilmunya, kalau tidak mengerti ilmunya 50jt hilang begitu saja. Sebagai contoh, Marutho adalah seorang suami yang mempunyai 2 istri, dia kaya raya nama lengkapnya adalah Marutho Kelopo. Suatu hari dia ingin menunaikan haji bersama kedua istrinya yang bernama Hasanah dan Khodijah. Akhirnya keinginan tersebut kesampaian, Marutho bersama kedua istrinya yaitu Hasanah dan Khodijah pergi haji, namun kepergian hajinya tersebut tanpa disertai ilmu yang matang. Sampai akhirnya ketika thowaf (mengelilingi Ka’bah) Marutho tidak tau do’anya, dia hanya hafal do’a sapu jagad (“Robbana aatina fiddunyaa Hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar” artinya: Yaa Allah berikanlah aku kebaikan di Dunia dan kebaikan Di Akhirat serta jauhkanlah Hamba dari api Neraka), do’a tersebut dibaca terus sampai akhirnya istrinya yang bernama Khodijah merasa iri karena setiap thowaf do’a yang dibaca selalu ada namanya Hasanah, kenapa tidak ada namanya Khodijah. Si Khodijah pun protes kepada Marutho agar Hasanahnya diganti Khodijah. Karena Marutho tidak mengerti artinya do’a tersebut maka ia pun menyanggupi permintaan Khodijah, dan setiap thowaf do’a yang dibaca diganti (“Robbana aatina fiddunyaa Khodijah wa fil aakhiroti Khodijah waqinaa ‘adzaabannaar” artinya: Yaa Allah berikanlah aku Khodijah di Dunia dan Khodijah Di Akhirat serta jauhkanlah Hamba dari api Neraka) dan mau tidak mau arti dari do’a tersebut berbeda. Itulah sedikit gambaran amalan akhirat yang ditolak karena tidak tahu ilmunya.