Jumat, 11 Januari 2013

Kekerasan BUKAN Hukuman Terbaik


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dikisahkan sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun bernama Ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya juga anak-anak yang suka mengeksplorasi diri, Ita pun demikian. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah di halaman dengan lidi, sementara pembantu sedang menjemur pakaian dekat garasi. Puas mencoret-coret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggores-gores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang dipergunakan oleh ayahnya kekantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.
Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita member tahu tentang gambar-gambar yang sudah dibuat di mobil baru ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan sangat besar. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu yang dinilai tidak mengawasi Ita dirumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pukulan. Dipukulilah kedua telapak tangan dan punggung anaknya dengan apa saja yang ditemukan disitu. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai luapan emosi yang tidak terkendali.
“Ampun, Bah! Sakit…sakit, ampun!” jerit Ita sambil menahan rasa sakitditangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si ibu yang hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan oleh suaminya.
Puas menhajar anaknya, si ayah menyuruh pembantunya untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, sang pembantu membawa Ita kekamarnya. Sore hari ketika dimandikan, ita menjerit-jerit menahan sakit. Esoknya tangan Ita membengkak, sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, ibu Ita hanya mengatakan, “Oleskan obat saja”.
Hari brganti hari, hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Kembali dilaporkan, orang tuanya pun hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita muli mengigau. Buru-buru mereka membawa Ita ke rumah sakit pada malam itu juga.
Hasil diagnose dokter menyimpulkan bahwa demam itu berasal dari tangannya yang sudah infeksi dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopname disana, dokter memanggil ayah dan ibunya mengatakan, “Tidak ada pilihan lain…”
Dokter mengusulkan agar kedua tangan anaknya diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi!”.
Mendengar berita ini, orang tua Ita bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan yang bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.
Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakitdan bingung ,melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lai, dia melihat kedua orang tuanya dan pembantunya menangis di sampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orang tuanya, “Abah…Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi… Ita sayang Abah, sayang Mama, juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencoret-coret mobil Abah!” Si ibu dan ayah semakin menangis mendengar kata-kata Ita tersebut.
“Bah, sekarang tolong kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Abah…Mama, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalamin Abah, Mama dan Bibi untuk minta maaf!”.
Menyesal bagi kedua orang tua Ita sudah tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.

Semoga kisah diatas dapat kita jadikan untuk bahan renungan agar kita tidak menirunya dan menghindari kekerasan. Kekerasan bukan jalan terbaik untuk mendisiplinkan seorang anak, namun, bisa dilakukan dengan cara pemberian motivasi dan keteladanan yang maksimal.
terimakasih,
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Sumber: Half full Half empety