Selasa, 15 Januari 2013

MANUSIA VS HEWAN


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Manusia dan hewan memiliki kesamaan, yaitu sama-sama makhluk ciptaan Allah, Namun sifat dan kehidupannya sangat berbeda. Manusia merupakan makhluk Tuhan yang sempurna dibandingkan hewan, manusia punya akal dan pikiran yang bisa digunakan untuk berfikir dan bahkan merubah dunia, sedangkan hewan tidak memiliki akal dan pikiran yang bisa digunakan seperti manusia. Namun apakah perbedaan tersebut membuat kita tidak perlu mempelajari atau meniru kehidupan hewan? jawaban yang tepat yaitu kita masih perlu meniru dan mempelajarinya selama itu bersifat baik.
Manusia lahir didunia itu telanjang, artinya bahwa kita semua ini sebagai manusia sebenarnya tidaklah memiliki apa-apa, semua yang kita miliki tersebut adalah milik Allah. Semua manusia itu telanjang sewaktu lahirnya, para pejabat yang sekarang, dulu ketika lahir mereka juga telanjang, Pak kyai lahirnya juga telanjang, pak menteri lahirnya juga telanjang, dan semua manusia lahirnya telanjang, tidak ada yang lahir dengan menggunakan seragam. J Itulah lambang bahwa manusia itu tidak punya apa-apa. Namun memang sudah jadi dasar wataknya manusia yang tidak punya apa-apa, aslinya tidak mengerti apa-apa, akan tetapi ingin mengetahui apa-apa, ingin mempunyai apa-apa bahkan ingin MENGUASAI segalanya ibarat dunia ini ingin digenggam. Jadi setiap bayi yang lahir PASTI tangannya menggenggam. Itu sudah menjadi lambang dari Allah bahwa manusia itu ingin dunia seisinya ini dalam genggammannya. Tidak pernah ada bayi lahir tangannya melambai-lambai sambil say hello kepada ibunya. Tapi manusia tidak sadar kalau ketika mati itu tangannya membuka. Itu lambang bahwa tidak ada segala sesuatu yang didunia ini bisa dibawa mati. Kalau secara teori seharusnya manusia ketika mati itu ngempet sakit dan tangannya menggenggam, tapi tidak ada yang seperti itu. Semua itu bisa kita rasakan kalau kita semua sudah mati, kalau belum mati maka sifat ingin menguasai segalanya itu masih ada. Oleh karena itu sebutan bagi orang yang meninggal itu beda-beda. Kalau orang alim atau orang baik itu misal meninggal disebut SEDO (dalam bahasa jawa) artinya SEksanya wes bakDO, artinya siksanya sudah selesai tinggal nikmatnya tinggal enaknya, seperti saya ini besok SEDO. Amin… J Misal orang biasa itu ya MATI gt aja, artinya nikMAtnya ganTI. Kalau orang rada jelek itu MATEK artinya nikMAtnya wes entEK atau nikmatnya sudah habis. Kalau tukang mabuk, suka main judi, suka berbuat dosa itu meninggalnya disebut BONGKO, artinya dioBONG neng neroKO atau dibakar dineraka.hehe
Manusia bisa merasakan semuanya itu ketika sudah mati, misal masih hidup ya masih mempunyai sifat ingin menguasai, sebab manusia itu hidupnya tidak pernah merasa cukup. Maaf-maaf kata ya, contohkan saja ayam. Ayam itu makannya hanya beras, nasi, kedelai, kacang hijau. Tapi coba kalau manusia beras dimakan, nasi dimakan, kedelai dimakan, kacang hijau dimakan dan bahkan ayam-ayamnyanya juga doyan. Kambing itu makannya cukup kangkung, bayam, saja mau, tapi kalau manusia kangkung juga dimakan, bayam juga dimakan dan bahkan se-kambing-kambingnya juga doyan. Kucing itu kalau kucing beneran cukup ikan asin, tulang, ikan teri saja, tapi kalau Kucing GARONG apa-apa doyan, aspal juga doyan, besi juga doyan duit rakyat saja juga doyan kok.haha Contoh lagi BAJING (Tupai) kalau bajing beneran dapat makan kelapa satu itu aja sudah cukup, bahkan merasa kasihan dengan yang punya maka disisakan. Karena biar yang punya tidak perlu memanjat untuk mengambil kelapa, maka kelapa yang sudah dimakan aja dijatuhkan, masih kurang baik apa jal? Coba kalau BAJING*N, dikasih kelapa 4 pohon juga masih kurang, jangankan kelapanya, sepohon-pohonnya juga mau kok. Apalagi BAJING*N masih ada tambahannya TENGIK gitu, weeeees bubarr sekabehane. Haha
Itulah gambaran kalau manusia itu hidupnya tidak pernah merasa cukup yang selalu merasa kuraaang terus. Tapi kalau hewan itu selalu merasa cukup karena hewan tidak ada yang punya sifat menguasai. Jadi hewan itu selalu dicukupi oleh Allah dan tidak pernah kekurangan, sebab hewan itu Makhluknya Allah yang Qona’ah=terimo ing pandum. Didunia hewan tidak pernah merasakan masa paceklik atau krisis pangan, tidak ada namanya krisis ekonomi. Apa ada yang pernah denger ada cicak terkena busung lapar? tidak ada kan..? bisa dilihat kalau cicak itu hidupnya menempel dan tidak bisa terbang tapi makananya hewan-hewan yang bisa terbang. Tapi cicak selalu menerima dan tidak pernah protes sama yang diatas. Adakah cicak yang protes begini “Wah Allah tu salah desain aku ini, makananku tu hewan yang bisa terbang masak aku tidak didesain punya sayap” hehe tidak ada cicak yang protes seperti itu. Maka dari itu hewan jika sudah mendapatkan makan ya sudah cukup, maka dari itu tidak pernah ada yang kekurangan, dan selalu dicukupi oleh Allah. Ayam kalau dapat makanan dan sudah kenyang ya sudah. Tidak memikirkan besok makan apa lagi, untuk besok ya besok. Apa ada ayam cari makan sambil bawa karung?hehehe
Yang hidupnya tidak pernah merasa cukup itu ya hanya manusia, ada juga satu macam hewan yang hidupnya memiliki sifat sama dengan manusia, yaitu Monyet. Monyet itu kalau dikasih makan apa-apa tidak pernah cukup dan pasti dia suka menimbun seperti manusia. Jadi makhluknya Allah yang suka menimbun dan sama sifatnya itu ya cuma manusia dan Monyet, ya cuma mereka berdua itu kok.heheh
Coba kalian teliti, semua hewan itu kalau makan langsung pake mulutnya tidak pake tangan. Ayam, itik, angsa, sapi, kambing dll kalau makan langsung pakai mulut tidak perlu istirahat pakai tangan, yang makan pakai tangan  itu ya cuma mereka berdua tadi,hehehe
Demikian itu sedikit cerita yang menggambarkan kehidupan hewan dan manusia, mungkin ada beberapa sifat baik yang dimiliki hewan untuk dijadikan contoh atau motivasi bagi kita. Semoga bermanfaat dan apabila ada kesalahan mohon kebenarannya. Terimakasih.. J
Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Sumber: Pengajian rutin Wisata hati