Sabtu, 18 Mei 2013

Rencankanlah Sesuatu yang Istimewa bagi Mereka

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kita punya kerinduan apa pada mereka, pada wajah-wajah yang semestinya membuat diri ini cemas. orang tua, guru, sahabat atau siapa pun yang telah sangat berjasa terhadap capaian hidup kita hari ini. Cemas, karena hingga kini kita belum mampu membahagiakan mereka. Cemas, sebab dari waktu ke waktu, diri ini lebih sering mengecap manisnya jasa-jasa mereka. Tanpa pernah tahu sampai kapan semua itu berbalas.
Semestinya kita punya sebentuk rindu yang indah terhadap mereka. Rindu yang mampu menghadirkan senyum saat mereka mengetahui, bahwa kebajikannya selama ini telah mengantarkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Karenanya rencanakalah, sesuatu yang istimewa untuk mereka, orang-orang yang telah berjasa itu. Meskipun hanya sekali dalam hidup.
Inilah diri kita sekarang, dengan segala pencapaian yang kita miliki. Dalam rentang waktu di mana kita pertama kali melihat dunia hingga menghirup berupa-rupa rasa. Sadar atau tidak, bila diri ini mau jujur, sebenarnya telah begitu banyak jasa orang lain yang telah kita cicipi.
Adakalanya kebaikan itu mereka tawarkan sendiri. Mereka tak kuasa melihat kita bersusah payah menjalani hidup. Atas nama cinta mereka memberikannya. Tapi, tak jarang pula, bahwa mereka menunaikan rencana kebajikannya itu secara diam-diam. Sampai-sampai kita sendiri mengira bahwa semua yang telah kita dapat adalah utuh kerjas keras kita. Tanpa campur tangan siapa pun.

Lantas, bila telah demikian, dari sepanjang garis hidup yang telah kita lalui, tak adakah satu saja dari potongan episode kehidupan itu yang menjelaskan tentang keberartian. Tentang balas budi. Padahal mungkin saja, orang-orang yang berjasa itu, hingga kini masih melantunkan doa. Memohon pada yang Maha Kuasa agar kita baik-baik saja, disegerakan segala mimpinya.
Akan tapi alangkah pilunya. Bila sampai detik ini jangankan merencanakan. Karena terus menikmati jasa mereka, kita justru menjadi lupa akan hadir mereka dalam setiap ikhtiar kita. Padahal hati kecil kita telah lama berdengung. segeralah balas kebaikan itu.
 Sekali waktu pernahkah kita bertanya. Apa yang menggerakkan pribadi tulus itu untuk mau berkorban demi orang lain? Seorang ayah yang meskipun letih, masih menyempatkan mendengar keluh anaknya. Seorang guru yang tetap sabar mengulang pelajaran, sebab muridnya yang tak kunjung paham meskipun sudah sangat jelas. Atau seorang teman yang terkantuk-kantuk menjaga kita kala sakit, saat diri ini terpisah jauh dari keluarga.
Baik besar atau pun kecil, setiap peran mereka tentu saja punya keberartian dalam hidup kita. Sebentuk kerinduan yang mereka miliki sebenarnya sederhana saja. Hanya ingin mengekalkan senyum kita. Membuat kita punya alasan untuk bahagia dalam setiap keseharian yang kita lalui.
Namun karena ketulusan, kerinduan yang tampaknya sederhana itu menjadi begitu istimewa. Hingga Rasulullah anjurkan agar kita menyambut setiap kebaikkan orang lain dengan kebaikkan pula.

Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya, maka ia telah berterima kasih kepadanya; namun jika menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkarinya…” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad.  no. 157).

Ya, rencanakanlah, sesuatu yang istimewa untuk mereka, orang-orang yang telah berjasa itu. Meskipun hanya sekali dalam hidup. Sebab, saat kita bahagia karena apa yang kita impikan selama ini telah dalam genggaman. Di sudut sana, mungkin saja, ada orang yang diam-diam mengulum senyum. Mereka turut merasakan kebahagiaan, karena apa yang mereka doakan selama ini baru saja menjadi kenyataan.

Wassalamu;alaikum Wr. Wb

Sumber: Rumah Cahaya