Jumat, 28 Desember 2012

HYPOTHERMIA di MERBABU


Hari Senin tanggal 24 Desember 2012 mungkin akan menjadi momen yang tak akan terlupakan didalam sejarah hidup saya. Pasalnya ketika itu saya hampir saja sekarat dipuncak merbabu. Awalnya saya bersama ke dua temana saya (Tris dan Muadzin) sudah berencana jauh-jauh hari untuk mendaki Gunung Merbabu yang ketinggiannya 3.142 m dpl tersebut. Minggu malam saya bersama meluncur kekosan Muadzin, tak disangka malah anak ini masih tidur. Rencana awal kami ingin berangkat hari Senin ba’da sholat Subuh. Namun, dirasa nanti terlalu siang, maka kami bertiga berangkat hari senin jam 01.00 WIB dini hari. Diperjalanan tak henti-hentinya sedikit halangan menghampiri, mulai dari lampu motor Tris yang lepas-lepas dan setelah itu giliran motor saya yang harus kehabisan bensin ditengah-tengah alas jalan menuju kopeng.hadewww…..
Untung saja motor Tris bisa dilepas saluran tangkinya sehingga bisa berbagi bensin kemotor saya..hahaha
Kami melanjutkan perjalanan, namun baru berjalan beberapa meter kami menemui orang yang sama nasipnya dengan saya yaitu kehabisan bensin, kami mencoba menolongnya. Akhirnya kami diberikan sedikit arahan jalan menuju Camp pendakian gunung Merbabu. Sebab rencananya kami ingin mendaki melewati jalur Wekas yang terkenal rumayan cepat.
Pukul 03.30 WIB dini hari kami sampai di Camp, namun Camp tersebut tutup, dan bukanya jam 05.30 WIB. Damn…!!!
Kami memutuskan untuk sholat subuh dahulu dan sarapan dengan bekal yang telah kami bawa, (sego ndog + Mie…) hehe
Jalur Pendakian 



Pukul 06.00 WIB kami mulai medaki, dengan diawali do’a bersama dan sedikit ritual..walaah heheh kami cap cus berjalan dengan semangat. Ternyata jalur Wekas memang TOP…jalannya nge-Track terusss dan jarang-jarang ada bonus, gampang ngos-ngosan bray…
 
Pukul 09.00WIB kami sampai di Camp Ground atau pos 2, sebab pos 1 jaraknya sangat dekat sekali dengan base camp-nya. Disana kami bisa mengisi ulang air dan tidur sejenak, sebab disini banyak sekali orang-orang mendirikan tenda dan camping disini. Setelah sekitar 1 jam saya dan Tris tertidur, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju pos 3, lagi-lagi kami harus naik dan naik terus, jalannya semakin menungkik. haha
Jalur Setan
Sesampainya di Pos 3 kami mendirikan tenda disana, sebelum nanti kami melanjutkan untuk mendaki sampai dipuncak. Di pos 3 kami makan siang dan sholat. Bersama sego ndog+mie lagi kami makan siang, maklumlah logistic minim cooyy….hehe Namun, Allah maha tahu apa yang dibutuhkan hambanya, hehe
kami diberi snack dan gula pasir sama pendaki asal Jakarta yang rencananya mereka akan turun hari itu.
Pukul 14.30 WIB kami meneruskan perjalanan menuju puncak, namun sebagian barang-barang kami tinggal ditenda, biar gak berat bawanya. Ternyata jalan menuju puncaknya sangat extreme, ditambah waktu itu gerimis dan kami harus memakai mantel, setelah itu kami harus melewati jembatan setan yaitu jalan setapak yang kanan-kirinya sudah jurang, dan merengkak ditebing yang dibawahnya jurang dengan babatuan yang sangat OSeRAM  sekalleeee…

KS09

KS09
pukul 16.50 WIB kami sampai dipuncak, namun, cuacanya belum mendukung sebab pemandangannya masih tertutupi oleh kabut, dan juga ,masih gerimis. Disinilah detik-detik saya Hypothermia. Kami bertemu dengan pendaki yang membuat tenda dipuncak, mereka dari UPN, SADHAR, dan Jakarta. Kami diajak untuk ngobrol-ngobrol bersama sambil berteduh. Gerimispun semakin menjadi dan ditambah hembusan angin yang rumayan kencang, suhu disana sangat dingiin sekali, awalnya tangan saya hanya beku namun masih bisa ngerasa, tapi lama-kelamaan mati rasa. Setelah tangan saya tidak bisa merasakan apa-apa, eee… si tris sama Adzin malah ngobrolin soal pendaki yang mati gara-gara Hypothermia dijalur pendakian, (Matilah aku…masak aku harus game over disini) hehe

G.Merapi dari Puncak merbabu
Seluruh badan saya sudah menggigil kedinginan, dan wajah saya pucat… untuk ngomong saja rasanya berat, apalagi untuk bergerak. Setelah Gerimis berhenti, cuaca berubah menjadi sedikit baik, bahkan kami bisa melihat pelangi dipuncak Merbabu. Tris dan Adzin bersama pendaki-pendaki lainnya berfoto-foto, sedangkan saya hanya diam seperti patung ngampet suhu yang dingiiin sekali. Tak henti-henti saya berdo’a didalam hati agar diberikan keselamatan dan perlindungan. Namun, lama-kelamaan saya sudah merasa tidak kuat untuk berlama-lama dipuncak, saya memutuskan untuk meminta turun. Sebelum saya meminta Adzin dan Tris untuk turun saya menyempatkan untuk berfoto-foto juga, biar ada kenangan lah.heheh
Untuk menuruni puncak saja, saya harus sedikit memaksakan tangan saya agar bisa digerakan. Perjalanan menuruni puncak pun tidak mudah, sebab kami bertiga hanya membawa 2 senter ditambah jalan yang gelap serta gerimis, jadi kami tak henti-hentinya sering terpeleset. Kebayang lah gimana rasanya. hehe
Korban... hehe
Akhirnya kami sampai ditenda, dan tangan saya Alhamdulillah bisa sembuh. Namun, saya harus GERING (masuk angin). Terpaksa saya harus tepar dan tidak bisa menikmati indahnya malam di Merbabu. (yang penting saya masih hidup) Terimakasih ya Allah…J
Sekitar jam 07.00 WIB kami packing semua barang-barang dan tenda, kemudian kami turun. Sampai di Pos 2 disana kami istirahat sebentar, ternyata kemurahan Allah kembali ditunjukkan kepada kami. Kami bertiga diajak sarapan bersama oleh keluarga Mas Udin, beliau asli magelang, namun beliau hanya camping saja di pos 2 bersama keluarganya. Alhamdulillah perut kenyang cooooy..hahaha
Memang kehidupan kami selama dialam waktu itu penuh dengan kemurahan yang diberikan Allah melalui perantara mereka-mereka yang berbuat baik dengan kami. Sebab kami bertiga tidak membawa logistic yang begitu melimpah, bisa dikatakan mepetlah..hehehe
Setelah sejenak kami sarapan bersama dengan keluarga Mas Udin dan ngobrol-ngobrol, kami melanjutkan perjalanan turun, namun ternyata saya ada kabar lewat sms dari Base Camp kalau ada 3 pendaki yang tersesat, kami diminta untuk bertanya-tanya jika ada yang mnegetahui atau sempat bertemu. Akan tetapi selama kami diatas dan perjalanan turun kami tidak bertemu dengan 3 pendaki yang dimaksud tersebut. Semoga saja mereka selamat dan bisa berkumpul dengan keluarganya kembali, Amiin..
Akhirnya kami sampai di Base Camp dengan selamat, dan kami beristirahat sejenak sebelum akhirnya kami melanjutkan untuk pulang kekos.
Begitulah sedikit cerita perjalanan kami ke Merbabu, banyak hal dan pelajaran yang kami dapat murni dari alam dan juga pengalaman dari para pendaki-pendaki dari berbagai kota, kami mendapat banyak teman, keluarga dll. Tak luput juga banyak batu nisan yang berada di Gunung Merbabu, batu nisan tersebut tidak lain adalah penghormatan yang diberikan kepada mereka para pendaki yang meninggal disana, sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa kematian selalu ada di depan mata dan puncak gunung yang telah ditaklukan tidak seharusnya membuat pendaki besar kepala namun merasa bahwa ternyata pendaki hanyalah sebagian kecil dari alam yang masih harus menghadapi kenyataan akhir yaitu KEMATIAN. Semoga mereka yang meninggal disana diampuni dosa-dosanya, Amin…
Sekian…. J



Puncak Kenteng Songo

Puncak Kenteng Songo
Puncak Trianggulasi