Jumat, 07 Desember 2012

Memetik Pelajaran Dari Dewi Masyithoh


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Cerita ini sebenarnya berawal ketika saya sedang menjemput adik saya dari pesantren, dia kelas I MTs di Pon.Pes Sunan Pandan Aran Jakal Km.12,5. Ketika itu saya sedang  membantu ngemas-ngemasin barang-barang yang mau dibawa pulang dan g sengaja saya melihat sebuah buku yang ada tulisannya “Dewi Masyithoh”, sontak perhatian saya teralih ketulisan tersebut. langsung tulisan tersebut saya ambil dan saya bilang sama adik saya kalau tulisan tersebut saya pinjem untuk beberapa saat. Sesampainya dirumah langsung saya membaca tulisan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah cerita Dewi Masyithoh yang bekerja sebagai tukang sisir putri Fir’aun. Sebenarnya ketika saya dipesantren dulu juga pernah membaca cerita yang sama, namun karena sudah lama jadi ya lupa..hehe
Okeh…Alkisah, di suatu rumah di bumi Mesir, seorang wanita bernama Masyithoh yang sedang meninabobokan putri kecilnya diselimuti kegalauan. Ia lantas menceritakan kisahnya pada suami dan seorang pendeta bani israil. Jadi, ketika ia menyisir rambut putri Taia, putri kesayangan Firaun, sisir yang ia pegang terjatuh ke bumi. Tanpa sengaja Masyithoh berucap “Demi Alloh, celakalah Firaun”. Putri Taia kaget bukan kepalang mendengarnya dan dengan berapi-api ia memburu Masyitoh dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keimanan. “Bukankah Firaun, ayahanda, adalah Tuhanmu? Ia Tuhan sekalian alam”, ucap Taia. Masyithoh menjawab dengan berani "Bukan, Allah lah Tuhan sekalian alam, Dia adalah Tuhanku dan juga Tuhan ayahanda tuan putri, Firaun." Seketika saja Taia marah dan melaporkannya pada Firaun. Masyithoh pulang dengan wajah gelisah. Setelah mendengarkan cerita Masyithoh, Oded, suami Masyithoh, dan pendeta berusaha menenangkan Masyithoh, sembari menenangkan diri mereka sendiri. Sebab bukan tidak mungkin, akibat dari pernyataan Masyithoh tersebut maka bani israil akan dibantai oleh Firaun. Padahal kehidupan mereka saja, dalam rangka membangun istana piramid sudah sangat mengenaskan.
Nyatalah kerisauan yang selama ini dirasakan. Seorang pendeta Firaun ditemani anak buahnya mendatangi rumah Masyithoh dan menyeretnya menuju ke istana. Ia, suami, Siteri (putri pertama mereka berusia 10-12 thn) dan Itamar (bayi kecil mereka) dihadapkan langsung pada Firaun. Dengan sombong, Firaun memaksa Masyithoh sekeluarga untuk mengakui ketuhanannya. Bahkan ia menyatakan perang dengan Tuhan Masyithoh, Alloh, yang tiada di hadapannya. Tak pelak, hukuman cambuk pun terjadi, menyisakan gurat-gurat merah berdarah di punggung Oded dan Masyithoh. Subhanalloh, mereka tetap tegar bahkan semakin kuat ketauhidannya. Ternyata itu tidak cukup bagi Firaun dan antek-anteknya. Lantas Siteri yang masih kecil itu dijadikan tumbal agar orangtuanya menyerah. Ia dicambuk oleh algojo firaun tanpa ampun. Perasaan ibu mana yang tak luka ketika menyaksikan anaknya tersiksa? Namun masyithoh, di tengah terpaan badai berusaha menenangkan Siteri dengan nasihat-nasihat tauhidnya. ”Lecutan cemeti hanya bisa membekas pada tubuh, hanya bisa mengelupas kulit, mungkin melukainya, tetapi hati yang teguh beriman tidaklah akan dapat diubahnya”, begitu pesan lembut masyithoh.

Akhirnya penuhlah sudah wadah kesabaran Firaun, ia lantas memerintahkan algojo untuk memasukkan Masyithoh sekeluarga ke dalam wajan panas raksasa. Wajan itu diisi dengan timah mendidih. Timbul sebersit ragu dalam diri masyitoh, ia mulai memikirkan Siteri, Itamar dan Oded suaminya. Bayi Itamar yang sedari tadi menangis dengan keras tiba-tiba berhenti dan berkata lantang ”Ibu, Ayah, janganlah bimbang dan janganlah ragu. Sebab cairan timah tidaklah panas kendatipun mendidih. Yang panas hanya dalam sangkaan, takkan terasa oleh orang yang sudah tunggal rasa, erat berpaut tauhid dengan Alloh yang Maha Agung”. Firaun dan antek-anteknya kaget bukan kepalang. Bukan..bukan hanya kaget. Mereka takut..takut pada ”sesuatu” yang menurut mereka tiada, namun bisa membuat Masyithoh rela digodog dalam timah panas.

Akhirnya Masyithoh dan keluarganya meninggal…

Subhanallah sekali ya, Sungguh ujian berat menimpa wanita mulia ini beserta anak-anaknya. Fir’aun menghukum karena mereka beriman kepada Allah swt. dan rela dengan agama yang mereka anut. Tanpa belas kasih Fir’aun melempar anak-anak Masyithoh satu demi satu ke tungku besar berisikan timah panas yang mendidih. Fir’aun melakukanya untuk menakut-nakuti Masyitoh. Fir’aun berharap naluri keibuan Masyithoh iba akan nasib anak-anaknya dan itu membuatnya lemah lalu mau kembali mengakui Fir’aun sebagai Tuhan. Akan tetapi Allah swt. memperlihatkan kepada Fir’aun bahwa yang menggenggam kalbu Masyithoh adalah diri-Nya. Apakah Fir’aun mampu menguasai kalbu seseorang yang telah beriman? Mungkin ia bisa membunuh jasadnya, tapi mampukah membunuh ruhnya? Itu mustahil dilakukan Fir’aun.
Apa yang dihadapi Masyithoh adalah ujian yang berat bagi kalbu orang yang beriman. Namun, dorongan keimanan yang kuat membuatnya bertahan dan keluar menjadi pemenang. Masyithoh dan anak-anaknya membuktikan keimanannya kepada Allah dengan mewakafkan diri hancur disiksa dengan cara yang sangat tidak berperikemanusiaan oleh Fir’aun.
Rasulullah saw. bercerita kepada kita, “Ketika menjalani Isra’ dan Mi’raj, aku mencium bau yang sangat harum.” “Wahai Jibril, bau harum apa ini?” tanya Rasulullah. Jibril menjawab, “Ini bau harum Masyithoh (pelayan putri Fir’aun) dan anak-anaknya.” Saya bertanya, “Apa kelebihan Masyitoh?”
Jibril menjawab, ”Suatu hari Masyithoh menyisir rambut putri Fir’aun. Sisirnya jatuh dari tangannya. Ia berkata, ‘Bismillah.’ Putri Fir’aun kaget dan berkata kepadanya, ‘Dengan menyebut nama ayahku.’ Ia menolak. ‘Tidak. Akan tetapi Tuhan saya dan Tuhan ayah kamu adalah Allah.’ Ia menyuruh putri itu untuk menceritakan peristiwa tersebut kepada ayahnya.
Putri itu pun menceritakan kepada Fir’aun. Maka Fir’aun memanggil Masyithoh. Fir’aun bertanya, “Wahai Fulanah, apakah engkau punya Tuhan selain aku?” Ia menjawab, “Ya, Tuhan saya dan Tuhan kamu adalah Allah.” Fir’aun marah besar. Ia memerintahkan dibuatkan tungku besar yang diisi timah panas; agar Masyithoh dan anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya. Masyitoh tidak menyerah. Begitu juga anak-anaknya. Masyithoh meminta satu hal kepada Fir’aun, “Saya minta tulangku dan tulang anak-anakku dibungkus menyatu dengan kain kafan.” Fir’aun menuruti permintaannya.

Dari cerita diatas dapat kita petik pelajaran, yaitu:
Meskipun Masyithoh telah wafat. Tapi, kisahnya belumlah berakhir. Sampai saat ini, kisahnya masih terngiang di telinga orang-orang yang rindu bertemu dengan Allah swt. Karena, Masyithoh telah memberi cambuk yang senantiasa memotivasi kita untuk meraih kehidupan yang baik dan lebih baik lagi.
· Iman adalah senjata yang sangat ampuh. Karena, iman adalah kekuatan yang bersumber dari ma’iyatullah (kebersamaan dengan Allah swt dan lindungan-Nya). Allah swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (An-Nahl:128)
· Sabar dalam menghadapi cobaan dan teguh dalam pendirian, itulah yang dibuktikan oleh Masyithoh dan anak-anaknya. Rasulullah saw bersabda, ”Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dibanding mukmin yang lemah, dan masing-masing dari keduanya mendapatkan kebaikan.” (Muslim)
· Selalu ada permusuhan abadi antara hak dan batil, antara kebaikan dan keburukan. Meskipun keburukan banyak dan beragam, namun pasti ujungnya akan lenyap. Karena yang asli adalah kebaikan.
· Allah swt. akan meneguhkan orang-orang yang beriman ketika mereka dalam kondisi membutuhkan keteguhan tersebut. Sebab, ujian itu sunnatullah. Pasti akan datang kepada setiap orang yang mengaku beriman.
· Muslim yang sejati tidak akan tunduk kecuali kepada Allah swt. Dan ia senantiasa melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
· Peran dan kontribusi kaum wanita muslimah tidaklah lebih kecil dibanding pria dalam mengibarkan panji kebenaran. Para wanita memiliki peran yang besar dalam dakwah ilallah sejak zaman dahulu. Syahidnya Masitoh akibat siksaan Fir’aun adalah bukti puncak pengorbanan yang pernah dilakukan wanita dalam sejarah.
· Balasan amal yang didapat seseorang adalah sesuai dengan kadar amal perbuatan itu sendiri. Allah swt. telah menghancurkan Fir’aun dan menghinakannya namanya dalam catatan sejarah yang akan terus dikenang sepanjang kehidupan manusia sebagai manusia terjahat. Sedangkan Masyithah diabadikan namanya dengan harum, dan menjadikan dirinya dan anak-anaknya wangi semerbak di langit tujuh karena perbuatannya yang baik. Jibril mencerita hal ini kepada Rasulullah, dan Rasulullah menyampaikannya kepada kita untuk dijadikan teladan.
· Allah swt. tidak akan menyiksa seseorang karena dosa orang lain.
· Sungguh, cerita seperti ini berulang dan akan terus berulang sepanjang waktu. Selalu akan ada orang zhalim dengan beragam bentuk kezhalimannya dan selalu ada orang yang akan menentang mereka meski tahu ada siksaan dan cobaan menyertai usaha baiknya itu.

Menarik sekali bukan cerita dari Dewi Masyithoh tadi,hehehe…
Yah…meskipun beliau seorang wanita namun sangat kuat sekali Imannya dan sangat gigih sekali dalam menggenggam kebenaran,
Sebuah perbuatan yang patut kita teladani dan kita jadikan sebagai motivasi.
Bagi kalian yang mempunyai nama “Dewi Masyithoh” berbanggalah, karena saya yakin nama tersebut diberikan oleh kedua orang tua kalian agar kalian menjadi wanita yang kuat seperti “Dewi Masyithoh” pada masa Fir’aun. Setidaknya itu adalah sebuah do’a dari kedua orang tua kalian, heheh

Okeh kawan-kawan tidak terasa ceritanya sudah selesai, dan terpaksa kita harus berpisah, huhuhu.. (Lebay)…J,
Saya mohon maaf apabila dalam menyusun kata-kata banyak kesalahan dan apabila  ada kata-kata yang tidak berkenan. Sampai bertemu kembali di lain cerita.
Terimakasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.