Kamis, 07 Maret 2013

BUAT APA MENANGISI YANG BUKAN MILIKMU


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Kemarin malam sepulangnya saya dari sebuah acara, bersama dengan teman-teman saya berkumpul disebuah warung makan. Yah, seperti biasa kami ngobrol kesana kemari dan malah sampai pada sesi curhat segala. Tentang Bambang (nama samaran) yang sedang patah hati, tentang Aldi (nama samaran) yang sedang jatuh cinta, dan tentang Gondrong (nama samaran) yang sudah lama ngejar-ngejar wanita tapi belum dapat kepastian. hehehe Atau tentang saya yang sedang makan serta galau juga kayaknya..wkwkwk
Yang menarik dari cerita-cerita ini adalah salah satu sahabat saya yang sedang mengalami kisah cinta “bertepuk sebelah tangan” alias KANDAS… wah saya sedikit tersindir ini,hahaha
Pahit sekali katanya, dan arrghhhh gitulah,,hehehe Sontak saya teringat nasihat super dari buku Peprempuan Pencari Tuhan, bahwasannya “kita harus bersyukur atas apa yang tidak kita miliki karena Allah Mahatahu mana yang pas untuk kita menurut takaran Allah, bukan menurut takaran kita, manusia. Memangnya siapa kita ikut mengatur Allah? Meski kita maunya ini dan enggak mau yang itu. Pokoknya yang ini!” Loh, tidak malu apa mengatur Allah yang lebih tahu? yang Mahatahu bahkan. Dalam QS Al-Baqarah [2] : 216 :”Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak mengetahui”. Jelas tho sekarang? Allah yang lebih tahu. Jadi terima takdir kita dan ikhlaskanlah tanpa syarat.
Sekarang, sudahlah, JANGAN tangisi apa yang bukan milik kita! Karena semua itu memang bukan yang terbaik untuk kita. BERSYUKURLAH ia tidak menjadi milik kita karena memang ia tak pantas untuk kita. Percaya deh, apa yang dipilihkan Allah untuk menjadi milik kita itulah yang terindah, terbaik, dan termanis. Maka sudahlah jangan tangisi apa yang bukan milik kalian. J
Maaf nih kalau tulisan ini mendadak jadi mellow gini,heheh mungkin tidak terlalu berbuah hikmah namun, hanya buah perenungan bagi saya. Kemaren sehabis sholat Isya’, saya mencoba merenungkan dengan apa yang telah saya perbuat. Lebih tepatnya mencoba mengerti pesan Allah dari berbagai kejadian dalam hidup saya. Mungkin kejadian yang terjadi pada bulan lalu dimana keinginan saya tidak bisa tersampaikan. wkwkwk
Teringat pesan senior saya kalau ingin membuat hidup ini bermakna dan tidak sia-sia adalah dengan cara meninggalkan luka lama. Tak perlu sering diingat. Ibarat sebuah buku maka bab itu sudah selesai, bab baru sudah menunggu. hehe Kalau kata orang Klaten “Life Must go on.” Malam ini , saya teringat bahwa dalam perjalanan jiwa saya rasanya saya lebih banyak menangisi kepergian orang-orang yang meninggalkan saya dan sedikit sekali, bahkan jarang sekali saya mengingat mereka yang tak pernah pergi dari sisi saya. Seberapapun luka yang saya tanamkan, ada yang tetap mencintai saya. Saat ada yang tak peduli dengan saya, ada yang begitu memperhatikan saya. Saya lupa dengan orang-orang yang menyembuhkan luka saya setelah itu. Kasih sayang, perhatian, rasanya saya buat tak bermakna karena pikiran saya dipenuhi luka dan sang pemberi luka. Saya terpaku oleh luka dan melupakan cinta yang mengelilingi saya. Cinta yang tanpa hawa nafsu pastinya, mungkin emang enak yang pake nafsu seperti para budak setan mencintai.
Kemudian saya sadari bahwa saya sering melihat pintu yang tertutup, lalu menangisi mengapa pintu itu tertutup. Lalu saya menggedor-gedor sang penutup pintu agar mau lagi membuka pintu itu dan beri saya kesempatan. Lalu meraung-raung jungkir balik dibalik pintu meratapi luka. Betapa bodohnya saya. Saya merasa tak bisa melihat dunia lagi karena pintu itu tertutup untuk saya. Kebodohan yang lain adalah saya lalu melupakan jendela-jendela yang terbuka lebar dan memberi saya ruang yang lebih luas dan lebar agar saya dapat melihat dunia dari sudut yang lebih indah, agar saya lebih mampu memerolah oksigen lebih banyak. (PPT)
Satu-satunya cara untuk mengobati luka adalah dengan meninggalkan luka itu sendiri. Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib seseorang hamba jika sang hamba tidak mengubahnya sendiri? Ayo, paksa diri untuk melangkah! Tutup lembaran yang ini dan bukalah lembaran baru. Tenang, kertasnya masih banyak kok,hehehe
Yuk, melangkah! move on! Buktikan bahwa luka yang ditorehkan tidak akan sanggup membunuh kita. Jangan berlama-lama dalam kesia-siaan, karena Allah tidak suka terhadap hal tersebut. Masih banyak yang harus kita lakukan, masih banyak perkerjaan yang menunggu, dan masih banyak orang-orang yang mencintai kita. Allah hanya mengambil satu orang yang tidak lagi kita butuhkan. Bukankah Allah hanya memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan?
Betul! jadi janganlah tangisi yang Allah ambil dari kita karena Allah tahu bahwa kita memang tidak lagi membutuhkan yang itu lagi. Tidak ada sesuatu pun yang diambil dari seseorang hamba kecuali diganti dengan yang lebih baik. Bangun dan jemputlah! Waktu terus berjalan, masak kalah sama patah hati? Rugi Dong… J
Wassalamu’alaikum Wr. Wb