Kamis, 07 Maret 2013

CATATAN TENTANG PATAH HATI


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Jika mendengar kata patah hati, pasti yang terlintas di benak kita adalah tentang cinta yang kandas. Cinta yang putus sampai disini saja. Tentang perpisahan, tentang air mata yang berlinang, tentang perihnya hati seperti tersobek-sobek, berdarah-darah, teriris-iris dan semua yang menyebabkan dunia serasa mengalami kiamat kubra. Katanya “lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati.” Wew… apa iya patah hati seperih itu lukanya?
Terkadang hati saya bimbang dan juga bingung kenapa setiap cinta yang putus, yang kandas itu diberi judul dengan patah hati. Apa tidak ada istilah lain yang lebih gaul gitu? Misal “reinkarnasi cinta” atau “metamorfosis hati” atau “kempompong basi”.
Pokoknya jangan pakai istilah hati yang patah, kan pada kenyataannya tidak separah itu tho? Tapi, sudahlah. Apapun istilahnya tetap saja putus, ya? Yang jelas bukan istilah tersebut yang jadi permasalahan, namun, bagaimana ketika cinta itu kandas, ketika cinta itu tak lagi tersambung, ketika cinta tersebut tidak mau lagi menjadi milik kita, dan ketika si dia tak mau lagi menjadi tempat penitipan hati kita. Seharusnya kita lebih bersyukur masih bisa diberi rasa patah oleh Allah. Kita masih bisa menangis, itu artinya kita masih punya hati, kan? buka sekadar hati, tapi hati yang sensitif, hati yang lembut. Hati yang mampu merasakan bahagia dan luka. Air mata yang mengalir dari mata ini bisa membersihkan kelopak mata kita yang kusam menjadi bening kembali. Air mata yang berlinang membawa semua kotoran dimata sehingga bening kembali kelopak mata kita. Bayangkan jika sebulan kita tidak menangis, apa tidak perih tuh mata? Menangislah karena Allah. Air mata ini jauh lebih bernilai pahala daripada menangsi si dia. Orang yang ditangisi pun tak tahu atau bahkan tak peduli kalau kita nangis.
Sebenarnya masih ada lagi hikmah dibalik kata patah hati ini. Coba bayangkan, ketika jatuh cinta kemarin rasanya mendengar suara si dia (meski hanya lewat telpon) lebih indah di telinga dari pada suara adzan. Sms mesra dari sang pujaan hati lebih sering kita baca-baca sampai berulang-ulang agar lebih mengerti artinya dan lebih bergetar mencintainya dan cetar membahana. Coba hitung, seberapa sering kita membaca ulang sms-sms, surat cinta, email dari si dia dari pada kita membaca surat cinta dari Allah, yang tertuang lewat Al-Qur’an? Ah, sungguh cara mencintai yang salah kaparah !
Kini setelah tak ada lagi SMS dari si dia, tak ada lagi suara indahnya, hikmah mulai terlihat. Dibalik hati yang teriris-iris berdarah-darah ini, Allah hendak mengembalikan kita kepada cinta-Nya. Apa ada cinta yang lebih indah dari pada cinta sang pemilik nafas ini? Pastinya tidak ada, kan?
Jadi, ketika kita patah hati, gantilah kata patah hati tersebut dengan syukur hati karena ternyata Allah lebih mencintai kita daripada dia. buktinya Allah mengambil kita untuk dikembalikan ke dalam keharibaan, limpahan kasih sayang dari kekasih hati yang baru dan selamanya, yaitu Dia, Allah Ta’ala. Siapa sih yang tidak mau jadi kekasih Allah? Rasanya tenang, damai, dan indah. Cukuplah rasanya hidup ini. Bisa dikatakan SAYA + ALLAH = CUKUP.
Semoga bermanfaat…Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb