Kamis, 28 Maret 2013

KERANDA KEMATIAN


Assalamu’alaikum Wr. Wb

Kemarin, ketika saya sedang di perjalanan pulang menuju rumah saya yang di Klaten, tiba-tiba perjalanan saya harus diberhentikan karena sedang ada kereta yang melintas, namun disini bukan kereta api yang saya maksud, adalah kereta jawa yang sedang membawa keranda yang berisikan jenazah manusia. Perjalanan saya berhenti untuk sekadar memberi penghormatan terakhir. Ternyata Allah memang sedang menunjukkan kepada saya dan semua pengendara yang akan melintasi jalan tersebut, bahwa suatu hari kita yang saat ini sedang berada di dalam kendaraan yang mewah ber-AC, kelak akan berada di keranda bertutupkan kain hijau bertuliskan, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Iya, keranda yang menuju pemakaman itu suatu hari akan kita kendarai. Siap atau tidak, suka atau tidak, kematian pasti datang. Artinya lagi, memang di bumi ini kita hanya singgah. Yang namanya singgah pasti tak lama. Kalau kelamaan, diusir sama yang punya tempat dong.
Saya berdiam sejenak sambil menikmati keranda yang lewat dihadapan saya, setelah dipikir-pikir jika saya hanya singgah di dunia ini, mengapa saya dan banyak sekali manusia yang terpedaya indahnya, tercengang, dan terlena dengan segala kenikmatan semu yang disajikan di tempat persinggahan semnetara ini? Pada hal jika di kaji ulang, Allah menempatkan kita di tempat singgah ini dan diberi rezeki selama singgah pasti ada tujuannya, trus apa dong tujuannya? tidak lain agar kita siap melanjutkan perjalanan menuju rumah yang sesungguhnya, bukan malah kita bengong, tersasar, dan menikmatai persinggahan ini, betah lagi alias tak mau pulang. How STUPID we are.
Sesampainya dirumah kembali saya merenung, kalau hidup ini hanya persinggahan sementara maka semestinya saya, kita semua harus jadi tamu yang baik dong. Tamu yang menurut apa kata si empunya rumah dan tamu yang tahu diri untuk siap-siap beranjak pulang, tak betah berlama-lama ditempat singgah. Teringat janji Allah bahwa di ujung perjalanan kita nanti, Allah menyiapkan rumah yang sangat indah, yang di bawahnya mengalir air sungai, yang tamannya penuh dengan buah dan bunga yang indah, haduuuuh…membayangkannya saja sudah bikin ngiler…hehehe
Namun, untuk sampai di rumah yang dijanjikan Allah, tentu syaratnya tidak mudah, beli apartemen di Jakarta yang tanpa tanah saja syaratnya berderet-deret kok, apa lagi rumah yang seindah rumah Allah. Jadi tempat persinggahan ini sesungguhnya tak ada apa-apanya dibanding tempat yang dijanjikan Allah. Namun, kita justru terpana dengan persinggahan sementara ini, lalu menganggap penampungan sementara ini abadi, dan sangat indah. Pada hal itu hanya fatamorgana saja, yang akan membuat kita tertipu, menjadi kabur hati kita karena keterpanaan yang menerpa.
Sekarang, dengan kesadaran penuh bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan sementara, kita TIDAK boleh terpesona, terlena, apalagi tersesat dan tak tahu jalan pulang. PARAH!!! Lebih baik tak terlalu nikmat disini, tapi nikmat disana, tempat yang sudah dijanjikan oleh Allah.
Ketika saya membayangkan jika raga yang diusung didalam keranda bertutupkan kain hijau bermerk, “Innalillahi wa inna illaihi raji’un”, itu adalah saya. Ah…rasanya saya belum siap berada didalam sana, belum siap. Sungguh kematian adalah guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang. Satu hal yang pasti adalah, NAPAS INI AKAN BERHENTI. Yang jelas hanya soal waktu, iya hanya masalah waktu dan masalah tempat kita akan dijemput.
Bicara soal kematian, saya teringat ucapan guru ngaji saya waktu di pesantren, “Jangan sampai jatah waktu yang Allah berikan kepadamu terhamburkan sia-sia, jangan sampai ketika ajal menjemput kamu mengatakan, ‘Ya Allah, mundurkanlah ajal saya sedetik saja. Akan saya gunakan untuk bertobat dan mengejar ketinggalan’. Permohonan tinggalah permohonan karena kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan lagi.”  Saya ingin ketika waktu itu datang, saya berada pada tingkat iman yang tinggi sehingga saya bisa ikhlas dan berpulang dengan senyum termanis. Saya, dan mungkin anda sekalian ingin berada di antara orang-orang yang mencintai kita dan kita cintai, kan? Kematian dengan cara yang indah ini pastilah sebuah hasil usaha yang keras dari mulai tobat detik ini juga dan terus beristiqomah hingga ajal menjemput. Tak ada yang INSTAN, semua butuh usaha keras.
Sungguh kematian memberikan tamparan yang sangat keras sehingga saya sadar bahwa saya dan kita semua bukan siapa-siapa dan bahwa kita tidak memiliki apa-apa. So, masih pantaskah kita sombong dengan semua yang kita miliki? masihkah kita lupa shalat ketika meeting? masih sanggupkah kita duduk manis sambil bercengkerama dengan para sahabat di kafe sementara adzan memanggil-manggil? masih punya hati nuranikah kita ketika melihat anak-anak basah kuyup meraup makanan sisa dari bak sampah milik si kaya? dan, masih layakkah kita dibilang punya perasaan ketika tanpa rasa berdosa kita menyakiti hati orang lain. merendahkan sahabat kita?
STOP!!! Sudahi berlaku sombong, didepan kita terbentang lebar lahan untuk berbuat amal dan menolong mereka. Selembar uang 5000 rupiah kita bisa untuk sepiring nasi dengan lauk pauk mereka yang belum makan sepekan. STOP berburuk sangka kepada manusia lain, dan STOP semua kesia-siaan.
Ah…memang keranda tersebut telah mengajarkan kepada saya bagaimana saya harus menjalani kehidupan. Setiap detik adalah potongan umur kita. Jadi, sudahlah, stop menjadi sombong dengan tidak mau shalat, dengan melalaikan sedekah, dengan tetap tidur pulas dimalam hari, pada hal belum shalat isya’, dan masuk dalam kehangatan selimut saat adzan subuh. Ingatlah kita masih diberi waktu sekarang. Esok? Belum tahu…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Sumber: PPT1