Kamis, 07 Maret 2013

TRUST N BELIEVE



Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dalam sebuah pendakian ke Gunung Merbabu, saya bersama ke dua teman saya berhasil menjamah puncak tertinggi gunung tersebut. Namun, terdapat sebuah cerita yang menarik dalam kisah pendakian kami. Kami sampai pada puncak pukul 17.10 WIB, tanpa disadari kalau tenda kami berada sekitar 500m dari puncak, dan yang pasti kami harus turun sebab tidak mungkin kami harus bermalam dipuncak tanpa menggunakan apa-apa. Setelah hari semakin petang, ditambah kedua tangan saya yang sudah mulai kaku akibat kedinginan, kami memutuskan untuk turun. Namun, kami masih merundingkan siapa yang akan memimpin perjalanan pulang. Awalnya teman saya yang bernama Tris yang akan memimpin perjalanan, saya percaya kalau dia mampu membawa saya sampai bawah, namun saya masih ragu dengan kemampuannya karena dia jarang mendaki, akhirnnya saya memilih Adzin untuk membawa kami berdua turun, sebab saya mengerti kalau dia sering mendaki sehingga saya mempercayakan segalanya kepadanya agar kita bisa sampai di tenda. Akhirnya dengan penuh perjuangan kami bisa sampai di tenda dengan selamat.
Melihat cerita diatas terdapat perbedaan yang signifikan antara percaya dan mempercayakan. Sikap saya kepada Tris dalam cerita diatas adalah lambang dari rasa “percaya”, sedangkan sikap saya kepada Adzin adalah lambang “mempercayakan”.
Setelah saya renungkan kembali ternyata memang benar, terkadang manusia berada pada tingkat percaya kepada Sang Pencipta, namun tidak bersedia total mempercayakan hidupnya dalam iman kepada-Nya. Seorang istri percaya bahwa suaminya tidak akan selingkuh, namun tidak mempercayakan sepenuhnya keyakinannya tersebut, akhirnya rasa cemburu buta dan curiga masih saja mewarnai hubungan mereka. Seorang pemimpin percaya bahwa anak buahnya mampu menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkannya dengan baik, namun dia tidak mempercayakan sepenuhnya kepada anak buahnya, akhirnya setiap waktu sering dikontrol dan alhasil membuat kreativitas anak buahnya terkebiri.
Saya tidak akan mempercayakan sepenuhnya kepada teman saya Adzin jika saya tidak terlebih dahulu percaya kalau Adzin sering mendaki, percaya bahwa dia lebih berpengalaman dari pada saya dan Tris. Parlindungan Marpaung seorang Training dan Consulting menuliskan bahwa, Hidup yang mempercayakan merupakan penyerahan secara total kehidupan kita setelah kita mengetahui siapa yang kita percayai. Hidup yang memercayakan bukan berarti menyerah secara total dan pasrah tanpa penyertaan akal budi untuk melihat realitas yang ada. Ketika seorang wanita benar-benar mempercayakan kebahagiaannya kepada seorang lelaki, berarti dia telah mengetahui seluk beluk lelaki tersebut dan yakin bahwa lelaki tersebut akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Sama halnya dalam sebuah Tim, akan semakin solid dan memiliki performansi tinggi (High Performance Team) pada saat seluruh anggota dan pengurusnya saling mempercayai. Seorang pemimpin yang mempercayakan pekerjaannya kepada karyawan akan memberikan penugasan yang jelas, serta standar hasil yang telah disepakati bersama. Bahkan seorang karyawan yang mempercayakan diri dan keluarga pada perusahaan akan mengembangkan rasa memiliki terhadap perusahaan. baginya, dia akan berfikir dua kali jika akan melakukan hal-hal yang merugikan perusahaan, karena perusahaan adalah lahan pertanian yang harus dirawat supaya tetap akan menghasilkan.
Dalam kehidupan spiritual, mempercayakan diri kepada Sang Pencipta berarti sadar bahwa Dia Maha Kuasa dan Maha Tahu serta Maha Besar. Mempercayakan diri kepada Sang Pencipta berarti mengenal Dia melalui kehidupan ibadah yang baik, membaca Kitab Suci, beramal kepada sesama, dan sebagainya. Terkadang dalam pengakuannya, manusia percaya kepada Kebesaran dan Kemahakuasaan Sang Pencipta, namun tidak melakukan penyerahan secara total sehingga dia tetap saja merasa khawatir dan gentar ketika menghadapi permasalahan besar. Semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita semua…Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb